LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN
KEPERAWATAN KELUARGA DENGAN TAHAP PERKEMBANGAN ANAK PERTAMA
(CHILD BEARING): ANAK USIA TODDLER
Oleh:
Esa Kartika
NIM.200300731
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ALMA ATA YOGYAKARTA
2020
A.
Konsep Keluarga
1. Definisi
Keluarga adalah sekelompok orang yang tinggal bersama, memiliki ikatan emosional yang sangat kuat dan saling berhubungan dikarenakan adanya ikatan pernikahan, hubungan darah, perwalian, dan karena proses adopsi (1). Allender & Spradley (2005) mendefinisikan keluarga dalam konteks yang lebih luas, yaitu dua atau lebih orang yang tinggal bersama di dalam satu rumah, saling terikat secara emosional, dan melakukan tugas sosial tertentu (2).
2. Karakteristik Universal Keluarga
Untuk
mengetahui secara objektif keadaan satu keluarga, perawat harus melakukan
pengkajian untuk memperoleh data, tetapi ada beberapa karakter universal yang
pasti dimiliki oleh setiap keluarga yaitu (3):
a.
Keluarga merupakan satu sistem
sosial kecil
b.
Keluarga memiliki budaya, nilai
dan aturan sendiri
c.
Keluarga merupakan suatu
struktur dan memiliki tipe keluarga
d.
Keluarga memiliki fungsi dasar
tertentu
e.
Keluarga melalui tahapan perkembangan
yang kemudian membentuk suatu lingkaran kehidupan
3. Tipe Keluarga
Ada beberapa jenis tipe keluarga, dan tipe keluarga dapat menetap ataupun berubah sewaktu-waktu dikarenakan proses kelahiran, pekerjaan, perceraian, kematian, dan pertumbuhan serta perkembangan anggota keluarga. Hal ini perlu diketahui oleh perawat dikarenakan tipe keluraga akan mempengaruhi kesehatan dan bagaimana setiap anggota keluarga saling berinteraksi (4). Menurut Judith et al (2010) membagi tipe keluarga menjadi:
|
Tipe |
Anggota Keluarga |
|
Tradisional: |
|
|
Nuclear dyad |
Suami dan istri tanpa memiliki anak |
|
Nuclear family/ Keluarga inti |
Suami, istri dan anak yang tinggal dalam satu rumah |
|
Commuter family |
Suami, istri dan anak atau tanpa adanya anak yang tinggal di kota
yang berbeda |
|
Single parent family |
Satu orang dewasa (berpisah karena perceraian atau salah satu
pasangan meninggal) dan anak |
|
Divorced family (Berbagi hak asuh anak) |
Satu orang dewasa dan anak yang berpindah-pindah tempat tinggal
antara kedua orang tuanya dikarenakan berbagi hak asuh setelah perceraian |
|
Blended family |
Keluarga yang dibentuk dari janda atau duda dan membesarkan anak
dari perkawinan sebelumnya |
|
Multigenerational family |
Beberapa generasi atau kelompok umur yang tinggal bersama dalam
satu rumah |
|
Kin network |
Beberapa keluarga yang tinggal bersama atau saling berdekatan dan
menggunakan barang-barang pelayanan seperti dapur, sumur yang sama |
|
Augmented family |
Tipe keluarga dimana jumlah anggota keluarga diperluas dan
berkembang dengan anggota keluarga yang tdk memiliki hubungan keluarga. |
|
Non Tradisional: |
|
|
Unmarried single parent
family |
Satu orang dewasa yang belum pernah menikah, yang tinggal bersama
anaknya |
|
Cohabitating partners |
Orang dewasa yang hidup bersama diluar ikatan perkawinan, bisa
tinggal bersama anak atau tanpa anak |
|
Commune family |
Lebih dari satu keluarga tanpa pertalian darah yang hidup serumah |
|
Group marriage commune
family |
Beberapa orang dewasa yang telah merasa saling menikah, berbagi segala
hal termasuk dalam membesarkan anak |
|
Group network |
Beberapa keluarga inti yang dibatasi oleh norma dan aturan, hidup
berdekatan dan saling menggunakan barang yang sama dan bertanggung jawab
membesarkan anak |
|
Homeless families |
Keluarga yang terbentuk tanpa perlindungan yang permanen karena
keadaan ekonomi atau problem kesehatan mental |
|
Foster families |
Keluarga yang menerima anak yang tidak ada hubungan keluarga/saudara
untuk waktu sementara. |
|
Gangs |
Keluarga yang destruktif, terdiri dari orang-orang muda yang
mencari ikatan emosional, berkembang dalam kekerasan dan kriminal |
|
“Loose shirt” families |
Orang tua yang bekerja dari rumah
menggunakan teknologi seperti komputer, laptop, dsb, dan melakukan telekomunikasi. |
4. Fungsi Keluarga
Friedman (2010) membagi fungsi keluarga menjadi 5 (5)
a.
Fungsi afektif (the affective function) adalah fungsi
keluarga untuk mempersiapkan anggota keluarga berinteraksi dengan orang lain
melalui proses pengajaran. Fungsi ini dibutuhkan untuk perkembangan indvidu dan
psikososial anggota keluarga.
b.
Fungsi sosialisasi dimulai
sejak lahir merupakan proses individu melalui perkembangan dan perubahan yang
menghasilkan interaksi sosial dan belajar berperan dalam lingkungan sosialnya.
Fungsi ini berguna untuk membina sosialisasi pada anak, membentuk norma-norma
tingkah laku sesuai dengan tingkat perkembangan anak dan dan meneruskan nilai-nilai
budaya keluarga.
c.
Fungsi reproduksi (the reproduction function) adalah
fungsi untuk mempertahankan generasi dan menjaga kelangsungan keluarga.
d.
Fungsi ekonomi (the economic function) yaitu keluarga
berfungsi memenuhi kebutuhan keluarga secara ekonomi, makan dan tempat tinggal untuk
mengembangkan kemampuan individu
e.
Fungsi perawatan atau
pemeliharaan kesehatan (the health care function)
berperan dalam mempertahankan keadaan kesehatan anggota keluarga agar tetap memiliki
produktivitas yang tinggi.
5. Tahap Perkembangan Keluarga
Untuk menilai apakah keluarga melakukan kegiatan promosi kesehatan yang tepat, maka terlebih dahulu perawat perlu mengetahui tahapan perkembangan keluarga (4). Friedman (2010) membagi tahapan perkembangan keluarga menjadi (5):
a.
Keluarga Baru (Berganning Family)
Pasangan baru
menikah yang belum mempunyai anak.
Tugas perkembangan:
1)
Membina hubungan intim yang
memuaskan.
2)
Menetapkan tujuan bersama.
3)
Membina hubungan dengan
keluarga lain, teman dan kelompok sosial
4)
Mendiskusikan rencana memiliki
anak (atau KB).
5)
Persiapan menjadi orang tua.
6)
Memahami pre natal care
b.
Keluarga dengan Anak Pertama (Child Bearing)
Masa ini merupakan
transisi menjadi orang tua yang kemungkinan akan menimbulkan krisis keluarga.
Tugas perkembangan
keluarga:
1)
Adaptasi perubahan anggota
keluarga terhadap peran, interaksi, seksual dan kegiatan-kegiatan lainnya.
2)
Mempertahankan hubungan yang
memuaskan dengan pasangan
3)
Membagi peran dan tanggung
jawab
4)
Memberikan bimbingan sebagai
orang tua terkait pertumbuhan dan perkembangan anak.
5)
Konseling KB Post Partum
6)
Menata ruang untuk anak.
7)
Menata ulang biaya/ dana child bearing
8)
Mengadakan kebiasaan keagamaan
secara rutin.
c.
Keluarga dengan Anak Pra
Sekolah
Tugas perkembangan:
1)
Pemenuhan kebutuhan anggota
keluarga.
2)
Membantu anak bersosialisasi.
3)
Beradaptasi dengan kebutuhan
anak pra sekolah.
4)
Merencanakan
kelahiran/kehamilan berikutnya.
5)
Mempertahankan hubungan di
dalam maupun di luar keluarga
6)
Pembagian waktu untuk individu,
pasangan dan anak.
7)
Pembagian tanggung jawab
8)
Merencanakan kegiatan dan waktu
stimulasi tumbuh kembang anak
d.
Keluarga dengan Anak Usia
Sekolah (6-13 tahun)
Tugas perkembangan:
1)
Membantu sosialisasi anak
terhadap lingkungan luar rumah, sekolah, maupun lingkungan yang lebih luas
2)
Mendorong anak untuk mencapai
pengembangan daya intelektualnya
3)
Menyediakan aktivitas untuk
anak
4)
Menyesuaikan pada aktivitas
komunitas dengan mengikut sertakan anak.
5)
Memenuhi kebutuhan yang
meningkat termasuk biaya kehidupan dan kesehatan anggota keluarga.
e.
Dengan Anak Remaja (13-20 tahun)
Tugas perkembangan:
1)
Pengembangan terhadap remaja
dengan memberikan kebebasan yang seimbang dan bertanggung jawab mengingat
remaja adalah seorang dewasa muda yang mulai memiliki otonomi.
2)
Memelihara komunikasi terbuka.
3)
Memelihara hubungan intim dalam
keluarga.
4)
Mempersiapkan perubahan sistem
peran dan peraturan anggota keluarga untuk memenuhi kebutuhan tumbuh kembang anggota
keluarga.
f.
Keluarga dengan Anak Dewasa
Tugas perkembangan:
1)
Mempersiapkan anak untuk hidup
mandiri dan merelakan kepergiannya
2)
Memperluas keluarga inti
menjadi keluarga besar
3)
Membantu anak untuk mandiri
sebagai keluarga baru di masyarakat.
4)
Menata kembali fasilitas dan
sumber daya yang ada pada keluarga
5)
Berperan sebagai suami-istri,
kakek ataupun nenek.
6)
Menciptakan lingkungan rumah
yang dapat menjadi contoh bagi anak-anaknya
g.
Keluarga Usia Pertengahan (Middle Age Family)
Tugas perkembangan:
1)
Mempunyai lebih banyak waktu dan
kebebasan dalam mengolah minat sosial dan waktu santai.
2)
Memulihkan hubungan antara
generasi muda-tua
3)
Kekakraban dengan pasangan
4)
Memelihara hubungan/
komunikasi/ kontak dengan anak dan keluarga
5)
Persiapan menghadapi masa tua/
pensiun
h.
Keluarga Lanjut Usia
Tugas perkembangan:
1)
Penyesuaian tahap masa pensiun
dengan cara merubah cara hidup
2)
Menerima kematian pasangan, kawan
dan mempersiapkan kematian
3)
Mempertahankan keakraban
pasangan dan saling merawat
4)
Melakukan life review masa lalu
B.
Konsep Keperawatan Keluarga
1. Definisi
Keperawatan keluarga adalah pelayanan holistik yang menempatkan keluarga dan komponennya sebagai fokus pelayanan dan melibatkan anggota keluarga dalam tahap pengkajian, diagnosis keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi (6).
2.
Peran Perawat Keluarga
Perawat
keluarga juga ikut berperan aktif dalam perawatan keluarga diantaranya sebagai
pendidik, koordinator, pelaksana, pengawas kesehatan, konselor, kolaborator,
fasilitator, penemu kasus dan melakukan modifikasi lingkungan (1). Salah satu peran perawat keluarga sebagai pendidik dalam
memberikan edukasi tentang kesehatan keluarga, masalah kesehatan, pengasuhan,
menjaga hubungan dengan anak dll, dilakukan dengan bantuan media kesehatan
untuk membantu proses penyampaian materi, meningkatkan pe penerima materi
edukasi, dan meningkatkan self-efficacy
seseorang (7,8).
3.
Tujuan Keperawatan Keluarga
Tujuan
keperawatan keluarga secara umum adalah kemandirian keluarga dalam memelihara
dan meningkatkan kesehatannya. Tujuan khusus keperawatan keluarga adalah
keluarga mampu melaksanakan tugas berikut ini (9):
a)
Mengenal masalah kesehatan yang
dihadapi anggota keluarga merupakan kemampuan keluarga dalam mengenal masalah
kesehatan seluruh anggota keluarga.
b)
Membuat keputusan secara tepat
dalam mengatasi masalah kesehatan anggota keluarga yaitu kemampuan keluarga
dalam mengambil keputusan untuk membawa anggota keluarga ke pelayanan
kesehatan.
c)
Memberi perawatan pada anggota
keluarga yang mempunyai masalah kesehatan merupakan kemampuan keluarga dalam
merawat anggota keluarga yang sakit.
d)
Memodifikasi lingkungan yang
kondusif adalah kemampuan keluarga dalam mengatur lingkungan, sehingga mampu
mempertahankan kesehatan dan memelihara pertumbuhan serta perkembangan setiap
anggota keluarga.
e)
Memanfaatkan fasilitas
pelayanan kesehatan untuk pemeliharaan dan perawatan anggota keluarga yang
mempunyai masalah kesehatan.
4.
Sasaran Keperawatan Keluarga
Sasaran keperawatan keluarga yaitu:
(1) keluarga sehat yang merupakan keluarga dengan keadaan seluruh anggota
keluarga dalam keadaan sehat, tetapi masih memerlukan antisipasi terkait siklus
perkembangan; (2) Keluarga risiko tinggi dan rawan kesehatan; dan (3) keluarga
yang memerlukan tindak lanjut (9).
5. Keperawatan Keluarga dengan Anak Pertama (Child Bearing)
Keperawatan keluarga dengan anak pertama tidak menjadikan individu dalam keluarga sebagai klien tetapi menjadikan keluarga sebagai klien dan individu sebagai konteks. Fokus keperawatan pada kesehatan dan kesejahteraan dibandingan prosedur dan pengobatan medis. Perawat harus memahami dampak kebijakan pemerintah, lokasi tempat tinggal, keadaan demografi dan sumber yang tersedia. Selain itu, memahami stressor yang pernah dialami dan sedang dialamai keluarga dengan anak pertama diperlukan agar perawat dapat memberikan respon yang tepat (10). Pemberian intervensi keperawatan berkaitan dengan (10):
b.
Pendapat, nilai kepercayaan dan
kecemasan atau ketakutan terkait anaknya
c.
Mendampingi keluarga mencari
sumber nutrisi yang baik
d.
Mengidentifikasi hambatan
pengasuhan anak
e.
Mendampingi dan membantu
keluarga memperoleh informasi terkait pengasuhan anak
f.
Fasilitas kesehatan yang dapat
digunakan
g.
Edukasi tentang perawatan dan
pengasuhan, hambatan yang akan dihadapi dan bagaimana cara memberikan respon
kepada anak mereka.
h.
Membantu orangtua mengembangkan
kemampuan baru dan cara berinteraksi selama proses pemberian asuhan kepada anak
mereka
i.
Nilai perlekatan antara
orangtua dengan anak
j.
Memotivasi orangtua untuk
berbagi pengalaman dengan orangtua lainnya
k.
Mendampingi keluarga mencari
dukungan yang bisa berasal dari teman, orang tua, dan kelompok orang tua
l.
Membantu orangtua mengetahui
kekuatan yang dimiliki dalam pemberian asuhan
m.
Peningkatan kemampuan anggota
keluarga lainnya dalam pemberian asuhan
n.
Menginformasikan orang tua
tentang bagaimana cara mengatasi kelelahan akibat proses pengasuhan
o.
Meningkatakan keercayaan diri
orangtua
C.
Konsep Anak Usia Toddler
Anak usia toddler adalah anak dengan periode usia 12 bulan s/d 36 bulan, merupakan masa dimana terjadi peningkatan eksplorasi lingkungan, belajar tentang bagaimana sesuatu bekerja dan kemudian berhasil dalam melakukan sesuatu, makna kata “tidak”, serta belajar tentang hubungan (11).
1. Tahap Perkembangan Anak Usia Toddler
a.
Perkembangan Biologis (1,11)
BB
rata-rata pada usia 2 tahun yaitu 12 kg, dan proses penambahan BB rata-rata 1,8
s/d 2,7 kg/ tahun. Peningkatan TB cenderung lambat, rata-rata pertambahan TB
yaitu 7,5 cm / tahun. TB rata-rata pada usia toddler yaitu 86,6 cm. Abdomen toddler cenderung membuncit, hal ini
dikarenakan otot abdomen belum berkembang dengan baik. Seiring dengan peningkatan
kemampuan berjalan, spinal toddler yang
berbentuk lordosis akan menjadi normal kembali.
Ketajaman
penglihatan 20/40 pada toddler masih
dikategorikan normal. Binocular vision telah berkembang secara sempurna, adanya
strabismus yang persisten harus dikonsultasikan ke ahlinya untuk mendapat
penanganan sehingga kejadian amblyophia
dapat dicegah. Persepsi kedalaman terus mengalami perkembangan, tetapi karena
koordinasi motorik toddler belum
sempurna, sehingga toddler beresiko
mengalami bahaya akibat jatuh dari ketinggian. Sensasi pendengaran, penciuman,
dan perabaan berkembang semakin baik pada usia ini, terjadi proses koordinasi
antara indera yang satu dengan yang lainnya, dan diasosiasikan dengan berbagai
pengalaman.
Frekuensi
respirasi sedikit melambat, heart rate
juga melambat dengan frekuensi berkisar diantara 90-110x/ menit. Perkembangan
otak berkembang sempurna 75% pada akhir usia 2 tahun. Pada sistem pernafasan,
terjadi pelebaran saluran lumen sehingga risiko infeksi saluran pernafasan
semakin rendah. Kapasitas lambung meningkat dan sekresi lambung lebih asam
sehingga risiko infeksi pada sistem gastrointestinal juga semakin rendah. Kontrol
sfinkter uretra dan anus semakin sempurna sehingga dapat dilakukan toilet training. Produksi IgG dan IgM menjadi
matur pada usia 2 tahun, dan pasif imunitas yang diperoleh selama kehidupan
intaruteri tidak lagi berfungsi.
Perkembangan
motorik pada toddler mayoritas
terjadi pada kemampuan lokomotor. Pada usia 12-13 bulan toddler berjalan dengan berpegangan untuk menjaga keseimbangannya. Usia
18 bulan toddler berusah berlari
tetapi mudah jatuh. Kemudian terjadi peningkatan kemampuan koordinasi dan
keseimbangan, sehingga selanjutnya toddler
dapat menaiki dan menuruni tangga. Perkembangan motorik halus pada usia 12
bulan yaitu toddler dapat memungut
benda kecil dengan ibu jari dan jari telunjuk. Pada usia 15 bulan toddler dapat memegang pensil atau
krayon dan membuat coretan, memasukan sesuatu ke dalam botol dengan leher
berukuran kecil, memungut dan melempar objek, selanjutnya dapat mengambil bola
dan melemparnya melalui atas kepala tanpa kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
Pada akhir usia 24 bulan toddler
dapat menirukan menggambar garis lurus dan lingkaran dan menyusun 7. Usia 36
bulan dapat menyusun 8 kubus atau lebih. Pada usia 15 bulan mampu memegang
pensil atau karon dan membuat coretan berbentuk garis atau lingkaran tidak
sempurna.
b.
Perkembangan Psikologis
Otonomi
versus rasa malu, berpusat pada kemampuan anak untuk mengontrol tubuh dan
lingkungannya, ingin melakukan hal-hal yang ingin dilakukan sendiri dengan
menggunakan kemampuan yang sudah mereka miliki (misalnya: anak akan puas jika
bisa berjalan, memanjat tanpa dikoreksi orang lain) Anak akan meniru perilaku
orang lain disekitarnya dan hal ini merupakan proses belajar. Rasa otonomi diri
perlu dikembangkan untuk terbentuknya rasa percaya diri dan harga diri,
perasaan malu dan ragu akan timbul bila anak merasa tidak mampu untuk mengatasi
segala tindakan yang dipilih dan kurang dapat dukungan dari kedua orangtua dan
lingkungan, atau anak sering dipaksa/ selalu diintervensi (11).
c.
Perkembangan Kognitif (11)
1)
Sensoris-Motorik
13-18 bulan:
Secara aktif
bereksperimen untuk mencapai sesuatu yang belum dapat tercapai sebelumnya,
meningkatkan konsep tentang suatu objek, membedakan dirinya sendiri dengan
objek lainnya, mengembangkan deferred-imitation,
dan insight learning.
19-24 bulan:
Kesadaran akan
keberadaan suatu objek walau objek tersebut tidak terlihat lagi atau berpindah
tempat berulang kali Menyimpulkan penyebab sesuatu terjadi jika mengalaminya
sendiri Peningkatan perkembangan deferred-imitation.
Menyadari akan waktu, antisipasi, memori dan kemampuan untuk menunggu.
Egosentris proses berpikir dan berperilaku serta mengorganisasikan pemikiran
secara umum.
2)
Pre Operasional
24-36 bulan
Peningkatan
kemampuan berbicara sebagai simbolisasi mental. Egosentris selama proses
berpikir, bermain dan berperilaku. Peningkatan kesadaran akan waktu, ruang dan
hubungan sebab akibat.
2. Keselamatan Anak Usia Toddler (12)
a.
Kendaraan
-
Sediakan kursi khusus untuk toddler dan jangan terdistraksi saat
berkendara
-
Jangan ijinkan toddler bermain diluar tanpa pengawasan
dan bermain-main dengan pintu garasi
-
Awasi toddler saat bermain
dengan sepeda mainannya
b.
Jatuh
-
Jaga agar jendela rumah selalu
tertutup atau ada pengaman jendela
-
Jangan ijinkan toddler berjalan sambil memegang benda
tajam atau memasukan sesuatu di mulut saat berjalan
-
Tinggikan penghalang tempat
tidur dan pastikan terkunci saat akan meninggalkan toddler sendiri
c.
Aspirasi
-
Singkirkan mainan berukucal
kecil yang bisa menyebabkan toddler
tersedak
-
Jangan beri makan toddler kacang dan popcorn, jangan
tinggal toddler sendirian dengan
balon, dan jangan ijinkan makan sambil berlari
d.
Tenggelam
Jangan tinggalkan toddler sendirian
didekat air dan di bathtub
e.
Keracunan
Jangan ajarkan
kepada toddler bahwa obat adalah permen, setelah pemberian obat segera amankan
obat di tempat yang tidak bisa dijangkau.
f.
Luka Bakar
-
Jauhkan air panas, kopi atau
the panas dari jangkaun toddler,
-
Jangan minum minuman yang panas
saat sedang memangku toddler
-
Jauhkan pemantik api dari
jangkauan toddler
-
Pastikan soket listrik dalam
keadaan aman
g.
Keamanan Secara Umum
Selalu mengawasi
toddler dan memahami bahwa bebrapa toddler
lebih aktif sehingga tingkat pengawasan harus lebih ditingkatkan.
3. Nutrisi Anak Usia Toddler
Pada usia 1-3 tahun toddler makan 3x/hari dengan asupan kalori sebesar 1000 kcal dan disajikan dalam bentuk makanan yang bervariasi. Pemunuhan kebutuhan protein dan karbohidrat umumnya yang paling mudah dipenuhi. Jauhi makanan dengan kaandungan gula yang tinggi untuk menghindari kejadian obesitas. Makanan tinggi lemak juga harus dibatasi ketat, dan setelah usia 2 tahun asupan lemak antara 30% dan 35%. Sumber lemak yang diperoh berasal dari polyunsaturated fatty acids (PUFA) dan monounsaturated fatty acids (MUFA), seperti ikan, kacang, dan minyak sayur. Asupan kalsium dan fosfor adekuat untuk tulang dan mineralisasi (12).
4. Toilet Training
Keberhasilan toilet training merupakan salah satu hal penting yang harus dicapai selama masa toddler dan menjadi tugas besar bagi orangtua. Mayoritas orang tua dengan anak pertama akan menanyakan pada usia berapa dimulai toilet training, usia keberhasilan toilet training dan bagaimana melakukannya. Perawat berperan penting dalam membantu pemberian health education kepada orang tua untuk membantu proses peningkatan penggunaan toilet (11,13).
Kontrol sfinkter uretra dan anus dicapai pada usia 18-24 bulan saat anak mulai bisa berjalan, tetapi keadaan psikofisiologis yang kompleks menjadi salah satu faktor yang dibutuhkan anak agar siap melakukan toilet training. Anak harus mampu mengenal sensasi keinginan BAK atau BAB, menahan atau melepaskannya, serta mengkomunikasikan hal tersebut dengan orangtua. Pengontrolan blader saat malam hari membutuhkan waktu lebih lama, hal ini karena dibutuhkan siklus tidur yang matur sehingga anak bisa bangun pada waktu yang tepat untuk BAK (11,12). Sebelum melakukan toilet training perawat perlu dilakukan asesmen kesiapan pelaksanaan toilet training (11):
a.
Kesiapan Fisik
1)
Anak dapat mengontrol sfinkter
uretra dan anus, normalnya hal ini terjadi pada usia 22 s/d 30 bulan
2)
Kemampuan untuk tetap kering
selama 2 jam, jumlah diapers yang basah menurun, dan bangun dari tidur siang dalam
keadaan kering
3)
Kemampuan motorik kasar: anak
mampu duduk, berjalan dan jongkok
4)
Kemampuan motorik halus: anak
mampu membuka baju atau celana
b.
Kesiapan Psikososial
1)
Anak mengenal sensasi keinginan
BAB dan BAK
2)
Kemampuan verbal atau non verbal
anak untuk menyampaikan saat basah atau memiliki keinginan untuk BAB atau BAK
3)
Kemampuan kognitif untuk menirukan
perilaku yang tepat dan mengikuti instruksi
4)
Kemampuan duduk di atas kloset selama
5-8 menit tanpa rewel, gelisah dan berpindah
5)
Mempunyai rasa keingintahuan akan
kebiasaan pergi ke toilet setelah melihat orang tua atau saudara
6)
Merasa tidak nyaman dengan
keadaan diapers yang basah dan keinginan untuk segera menggantinya
c.
Kesiapan Orang Tua
Kesiapan orang tua
dengan mempersiapkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan toilet training menjadi faktor penentu
keberhasilan peningkatan penggunaan toilet (13).
1)
Mengetahui kesiapan anak
2)
Bersedia meluangkan waktu
untuk proses toilet training
3)
Tidak sedang mengalami stres,
proses pindah rumah, adanya saudara baru, dan akan melakukan liburan
D.
Diagnosa Keperawatan dan Rencana Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Anak
Pertama (Child Bearing) (12)
1. Hambatan menjadi orang tua berhubungan dengan ketrampilan merawat anak tidak tepat (00056)
2. Disfungsi proses keluarga berhubungan dengan kurang keterampilan pemecahan masalah (00063)
3. Kesiapan meningkatkan menjadi orang tua (00164)
E.
Penentuan Prioritas Diagnosa Keperawatan Keluarga
|
No |
Kriteria |
Nilai |
Bobot |
|
1. |
Sifat Masalah -
Tidak/ kurang sehat -
Ancaman kesehatan -
Keadaan sejahtera |
3 2 1 |
1 |
|
2. |
Kemungkinan Masalah Dapat Diubah -
Mudah -
Sebagian -
Tidak dapat |
2 1 0 |
2 |
|
3. |
Potensi Masalah Untuk Dicegah -
Tinggi -
Cukup -
Rendah |
3 2 1 |
1 |
|
4. |
Menonjolnya Masalah -
Masalah berat harus segera
ditangani -
Ada masalah tetapi tidak
perlu segera ditangani -
Masalah tidak dirasakan |
2 1 0 |
1 |
Skor Prioritas:
Prioritas didasarkan
pada diagnosa keperawatan yang mempunyai skor tertinggi dan disusun berurutan
sampai skor terendah.
F.
Nursing Care Plan
|
No |
Diagnosa |
NOC |
NIC |
||||||||||||||||||||||
|
1. |
Hambatan
menjadi orang tua berhubungan dengan ketrampilan merawat anak tidak tepat
(00056) |
Kinerja Pengasuhan: Toddler (2907)
Keterangan: T=
Target
|
Pengajaran keselamatan balita 19-24 bulan
(5666): -
Instruksikan orang tua atau pengasuh untuk memasang di mobil sesuai
dengan rekomendasi pabriknya -
Instruksikan orangtua atau pengasuh untuk menyimpan benda tajam
peralatan dan perlengkapan dapur diluar jangkauan anak -
Instruksikan orang tua untuk menginstruksikan anak mengenai bahaya
dari jalan -
Instruksikan orang tua untuk menyimpan semua bahan pembersih
obat-obatan dan produk perawatan diri di luar jangkauan anak-anak -
Instruksikan orang tua untuk ada penghalang ganda ke area kolam
renang atau bak air panas Pengajaran latihan toilet (5634): -
Ajarkan orang tua/ keluarga bagaimana cara menentukan kesiapan fisik
anak untuk belajar menggunakan toilet -
Ajarkan orang tua/ keluarga bagaimana mengenali kesiapan anak secara psikososial
untuk menggunakan toilet -
Ajarkan orang tua/ keluarga mengenai bagaimana menentukan kesiapan
orang tua/ keluarga dalam melatih anak menggunakan toilet -
Sediakan informasi terkait strategi untuk meningkatkan penggunaan
toilet -
Dukung keluarga untuk melalui semua proses ini -
Dukung keluarga untuk fleksibel dan kreatif dalam mengembangkan dan
menerapkan strategi latihan |
||||||||||||||||||||||
|
2. |
Disfungsi
proses keluarga berhubungan dengan kurang keterampilan pemecahan masalah
(00063) |
Fungsi Keluarga (2602)
Keterangan: T =
Target
|
Pemeliharaan Proses Keluarga (7130): -
Tentukan proses keluarga yang khas -
Tentukan gangguan khas pada proses keluarga -
Identifikasi efek perubahan peran terhadap proses keluarga -
Diskusikan strategi untuk menormalkan kehidupan keluarga dengan
seluruh anggota keluarga -
Bantu anggota keluarga untuk menerapkan strategi normalisasi terhadap
situasi yang mereka hadapi -
Bantu anggota keluarga untuk menggunakan mekanisme dukungan yang ada -
Sediakan mekanisme bagi keluarga untuk tetap tinggal dan
berkomunikasi dengan anggota keluarga lain |
||||||||||||||||||||||
|
3. |
Kesiapan meningkatkan menjadi orang tua
(00164) Populasi
berisiko: orangtua meningkatkan keinginan untuk meningkatkan dukungan emosi
terhadap individu bergantung |
Kinerja Pengasuhan (2211)
Keterangan: T =
Target
|
Peningkatan pengasuhan (8300): -
Identifikasi dan daftarkan keluarga yang berada pada risiko tinggi
dalam program tindak lanjut -
Buat kunjungan rumah sesuai dengan tingkat risiko -
Bantu orang tua untuk memiliki harapan yang realistis sesuai dengan tingkat
perkembangan dan kemampuan anak -
Bantu orang tua terkait dengan perang transisi dan harapan -
Sediakan pamflet, buku, dan bahan lainnya untuk mengembangkan
keterampilan pengasuhan -
Bahas strategi manajemen perilaku yang sesuai dengan usia -
Rujuk orang tua pada kelompok dukungan orang tua yang sesuai -
Bantu orang tua dalam mengembangkan, memelihara dan menggunakan
sistem dukungan sosial -
Dengarkan masalah dan kekhawatiran orang tua tanpa kesan menghakimi
orang tua tersebut -
Ajarkan dan berikan contoh terkait dengan keterampilan koping -
Tingkatkan keterampilan pemecahan masalah |
Daftar Pustaka
1. Hanson SMH, Gedaly-Duff V, Kaakinen JR.
Family Health Care Nursing: Theory Practice and Research. 3rd ed. Philadephia:
F.A. Davis; 2005.
2.
Allender J, Spradley B. Community
Health Nursing: Concept and Practice. 8th ed. Philadelphia: Lippincott Williams
& Wilkins; 2005.
3.
Allender J, Rector C, Warner KD.
Community Health Nursing: Promoting and Protecting the Public’s Health. 7th ed.
Lippincott Williams & Wilkins; 2010.
4.
Pillitteri A. Maternal & Child
Health Nursing: Care of Childbearing & Childrearing Family. Lippincott
Williams & Wilkins; 2010.
5.
Friedman, Marilyn M. Buku Ajar
Keperawatan Keluarga : Riset,Teori, dan Praktek. 5th ed. Jakarta: EGC; 2010.
6.
Kemenkes RI. Pedoman Peyelenggaraan
Pelayanan Keperawatan Keluarga,. Kemenkes RI; 2010.
7.
AlKlayb SA, Assery MK, AlQahtani A,
AlAnazi M, Pani SC. Comparison of the Effectiveness of a Mobile Phone-based
Education Program in Educating Mothers as Oral Health Providers in Two Regions
of Saudi Arabia. J Int Soc Prev Community Dent. 2017;7(3):110–5.
8.
Kim O, Barnekow K, Ahamed SI, Dreier S,
Jones C, Taylor M, et al. Smartphone-Based Prenatal Education for Parents With
Preterm Birth Risk Factors. Patient Education and Counseling [Internet]. 2018
Oct [cited 2018 Dec 21]; Available from: https://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/S0738399118309613
9.
Widagdo W. Keperawatan Keluarga dan
Komunitas. Pusdik SDM Kesehatan Kemeterian Kesehatan Republik Indonesia; 2016.
10.
Kaakinen JR, Coehlo DP, Steele R, Tabacco
A, Hanson SMH. Family Health care Nursing: Theory, Practice, and Research. 5th
ed. Philadelphia: F. A. Davis Company; 2015.
11.
Hockenberry M, Wilson D. Wong’s Nursing
Care of Infants and Chidren. Elsevier Mosby; 2015. (10th).
12.
JoAnne S-F, Pillitteri A. Maternal and
Child Health: Care of Childbearing and Childrearing. 8th ed. California:
Wolters Kluwer; 2018.
13.
Iryanti, Kamsatun. Pengaruh Modul
Pemberdayaan Keluarga tentang Toilet Training terhadap Kemandirian Eliminasi
Anak di PAUD. Jurnal Keperawatan Padjadjaran. 2016;

No comments:
Post a Comment