Thursday, November 18, 2021

Contoh Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan Keluarga

 

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DENGAN TAHAP PERKEMBANGAN ANAK PERTAMA

(CHILD BEARING): ANAK USIA TODDLER

 

 

 

 

 



 

 

 

 

 

 

Oleh:

Esa Kartika

NIM.200300731

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ALMA ATA YOGYAKARTA

2020

A.    Konsep Keluarga

1.      Definisi

Keluarga adalah sekelompok orang yang tinggal bersama, memiliki ikatan emosional yang sangat kuat dan saling berhubungan dikarenakan adanya ikatan pernikahan, hubungan darah, perwalian, dan karena proses adopsi (1). Allender & Spradley (2005) mendefinisikan keluarga dalam konteks yang lebih luas, yaitu dua atau lebih orang yang tinggal bersama di dalam satu rumah, saling terikat secara emosional, dan melakukan tugas sosial tertentu (2).

2.      Karakteristik Universal Keluarga

Untuk mengetahui secara objektif keadaan satu keluarga, perawat harus melakukan pengkajian untuk memperoleh data, tetapi ada beberapa karakter universal yang pasti dimiliki oleh setiap keluarga yaitu (3):

a.       Keluarga merupakan satu sistem sosial kecil

b.      Keluarga memiliki budaya, nilai dan aturan sendiri

c.       Keluarga merupakan suatu struktur dan memiliki tipe keluarga

d.      Keluarga memiliki fungsi dasar tertentu

e.       Keluarga melalui tahapan perkembangan yang kemudian membentuk suatu lingkaran kehidupan

3.      Tipe Keluarga

Ada beberapa jenis tipe keluarga, dan tipe keluarga dapat menetap ataupun berubah sewaktu-waktu dikarenakan proses kelahiran, pekerjaan, perceraian, kematian, dan pertumbuhan serta perkembangan anggota keluarga. Hal ini perlu diketahui oleh perawat dikarenakan tipe keluraga akan mempengaruhi kesehatan dan bagaimana setiap anggota keluarga saling berinteraksi (4). Menurut Judith et al (2010) membagi tipe keluarga menjadi:

Tipe

Anggota Keluarga

Tradisional:

Nuclear dyad

Suami dan istri tanpa memiliki anak

Nuclear family/ Keluarga inti

Suami, istri dan anak yang tinggal dalam satu rumah

Commuter family

Suami, istri dan anak atau tanpa adanya anak yang tinggal di kota yang berbeda

Single parent family

Satu orang dewasa (berpisah karena perceraian atau salah satu pasangan meninggal) dan anak

Divorced family

(Berbagi hak asuh anak)

Satu orang dewasa dan anak yang berpindah-pindah tempat tinggal antara kedua orang tuanya dikarenakan berbagi hak asuh setelah perceraian

Blended family

Keluarga yang dibentuk dari janda atau duda dan membesarkan anak dari perkawinan sebelumnya

Multigenerational family

Beberapa generasi atau kelompok umur yang tinggal bersama dalam satu rumah

Kin network

Beberapa keluarga yang tinggal bersama atau saling berdekatan dan menggunakan barang-barang pelayanan seperti dapur, sumur yang sama

Augmented family

Tipe keluarga dimana jumlah anggota keluarga diperluas dan berkembang dengan anggota keluarga yang tdk memiliki hubungan keluarga.

Non Tradisional:

Unmarried single parent family

Satu orang dewasa yang belum pernah menikah, yang tinggal bersama anaknya

Cohabitating partners

Orang dewasa yang hidup bersama diluar ikatan perkawinan, bisa tinggal bersama anak atau tanpa anak

Commune family

Lebih dari satu keluarga tanpa pertalian darah yang hidup serumah

Group marriage commune family

Beberapa orang dewasa yang telah merasa saling menikah, berbagi segala hal termasuk dalam membesarkan anak

Group network

Beberapa keluarga inti yang dibatasi oleh norma dan aturan, hidup berdekatan dan saling menggunakan barang yang sama dan bertanggung jawab membesarkan anak

Homeless families

Keluarga yang terbentuk tanpa perlindungan yang permanen karena keadaan ekonomi atau problem kesehatan mental

Foster families

Keluarga yang menerima anak yang tidak ada hubungan keluarga/saudara untuk waktu sementara.

Gangs

Keluarga yang destruktif, terdiri dari orang-orang muda yang mencari ikatan emosional, berkembang dalam kekerasan dan kriminal

“Loose shirt” families

Orang tua yang bekerja dari rumah menggunakan teknologi seperti komputer, laptop, dsb, dan melakukan telekomunikasi.

 

4.      Fungsi Keluarga

Friedman (2010) membagi fungsi keluarga menjadi 5 (5)

a.       Fungsi afektif (the affective function) adalah fungsi keluarga untuk mempersiapkan anggota keluarga berinteraksi dengan orang lain melalui proses pengajaran. Fungsi ini dibutuhkan untuk perkembangan indvidu dan psikososial anggota keluarga.

b.      Fungsi sosialisasi dimulai sejak lahir merupakan proses individu melalui perkembangan dan perubahan yang menghasilkan interaksi sosial dan belajar berperan dalam lingkungan sosialnya. Fungsi ini berguna untuk membina sosialisasi pada anak, membentuk norma-norma tingkah laku sesuai dengan tingkat perkembangan anak dan dan meneruskan nilai-nilai budaya keluarga.

c.       Fungsi reproduksi (the reproduction function) adalah fungsi untuk mempertahankan generasi dan menjaga kelangsungan keluarga.

d.      Fungsi ekonomi (the economic function) yaitu keluarga berfungsi memenuhi kebutuhan keluarga secara ekonomi, makan dan tempat tinggal untuk mengembangkan kemampuan individu

e.       Fungsi perawatan atau pemeliharaan kesehatan (the health care function) berperan dalam mempertahankan keadaan kesehatan anggota keluarga agar tetap memiliki produktivitas yang tinggi.

5.      Tahap Perkembangan Keluarga

Untuk menilai apakah keluarga melakukan kegiatan promosi kesehatan yang tepat, maka terlebih dahulu perawat perlu mengetahui tahapan perkembangan keluarga (4). Friedman (2010) membagi tahapan perkembangan keluarga menjadi (5):

a.       Keluarga Baru (Berganning Family)

Pasangan baru menikah yang belum mempunyai anak.

Tugas perkembangan:

1)      Membina hubungan intim yang memuaskan.

2)      Menetapkan tujuan bersama.

3)      Membina hubungan dengan keluarga lain, teman dan kelompok sosial

4)      Mendiskusikan rencana memiliki anak (atau KB).

5)      Persiapan menjadi orang tua.

6)      Memahami pre natal care

b.      Keluarga dengan Anak Pertama (Child Bearing)

Masa ini merupakan transisi menjadi orang tua yang kemungkinan akan menimbulkan krisis keluarga.

Tugas perkembangan keluarga:

1)      Adaptasi perubahan anggota keluarga terhadap peran, interaksi, seksual dan kegiatan-kegiatan lainnya.

2)      Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan pasangan

3)      Membagi peran dan tanggung jawab

4)      Memberikan bimbingan sebagai orang tua terkait pertumbuhan dan perkembangan anak.

5)      Konseling KB Post Partum

6)      Menata ruang untuk anak.

7)      Menata ulang biaya/ dana child bearing

8)      Mengadakan kebiasaan keagamaan secara rutin.

c.       Keluarga dengan Anak Pra Sekolah

Tugas perkembangan:

1)      Pemenuhan kebutuhan anggota keluarga.

2)      Membantu anak bersosialisasi.

3)      Beradaptasi dengan kebutuhan anak pra sekolah.

4)      Merencanakan kelahiran/kehamilan berikutnya.

5)      Mempertahankan hubungan di dalam maupun di luar keluarga

6)      Pembagian waktu untuk individu, pasangan dan anak.

7)      Pembagian tanggung jawab

8)      Merencanakan kegiatan dan waktu stimulasi tumbuh kembang anak

d.      Keluarga dengan Anak Usia Sekolah (6-13 tahun)

Tugas perkembangan:

1)      Membantu sosialisasi anak terhadap lingkungan luar rumah, sekolah, maupun lingkungan yang lebih luas

2)      Mendorong anak untuk mencapai pengembangan daya intelektualnya

3)      Menyediakan aktivitas untuk anak

4)      Menyesuaikan pada aktivitas komunitas dengan mengikut sertakan anak.

5)      Memenuhi kebutuhan yang meningkat termasuk biaya kehidupan dan kesehatan anggota keluarga.

e.       Dengan Anak Remaja (13-20 tahun)

Tugas perkembangan:

1)      Pengembangan terhadap remaja dengan memberikan kebebasan yang seimbang dan bertanggung jawab mengingat remaja adalah seorang dewasa muda yang mulai memiliki otonomi.

2)      Memelihara komunikasi terbuka.

3)      Memelihara hubungan intim dalam keluarga.

4)      Mempersiapkan perubahan sistem peran dan peraturan anggota keluarga untuk memenuhi kebutuhan tumbuh kembang anggota keluarga.

f.        Keluarga dengan Anak Dewasa

Tugas perkembangan:

1)      Mempersiapkan anak untuk hidup mandiri dan merelakan kepergiannya

2)      Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar

3)      Membantu anak untuk mandiri sebagai keluarga baru di masyarakat.

4)      Menata kembali fasilitas dan sumber daya yang ada pada keluarga

5)      Berperan sebagai suami-istri, kakek ataupun nenek.

6)      Menciptakan lingkungan rumah yang dapat menjadi contoh bagi anak-anaknya

g.      Keluarga Usia Pertengahan (Middle Age Family)

Tugas perkembangan:

1)      Mempunyai lebih banyak waktu dan kebebasan dalam mengolah minat sosial dan waktu santai.

2)      Memulihkan hubungan antara generasi muda-tua

3)      Kekakraban dengan pasangan

4)      Memelihara hubungan/ komunikasi/ kontak dengan anak dan keluarga

5)      Persiapan menghadapi masa tua/ pensiun

h.      Keluarga Lanjut Usia

Tugas perkembangan:

1)      Penyesuaian tahap masa pensiun dengan cara merubah cara hidup

2)      Menerima kematian pasangan, kawan dan mempersiapkan kematian

3)      Mempertahankan keakraban pasangan dan saling merawat

4)      Melakukan life review masa lalu

 

B.     Konsep Keperawatan Keluarga

1.      Definisi

Keperawatan keluarga adalah pelayanan holistik yang menempatkan keluarga dan komponennya sebagai fokus pelayanan dan melibatkan anggota keluarga dalam tahap pengkajian, diagnosis keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi (6).

2.      Peran Perawat Keluarga

Perawat keluarga juga ikut berperan aktif dalam perawatan keluarga diantaranya sebagai pendidik, koordinator, pelaksana, pengawas kesehatan, konselor, kolaborator, fasilitator, penemu kasus dan melakukan modifikasi lingkungan (1). Salah satu peran perawat keluarga sebagai pendidik dalam memberikan edukasi tentang kesehatan keluarga, masalah kesehatan, pengasuhan, menjaga hubungan dengan anak dll, dilakukan dengan bantuan media kesehatan untuk membantu proses penyampaian materi, meningkatkan pe penerima materi edukasi, dan meningkatkan self-efficacy seseorang (7,8).

3.      Tujuan Keperawatan Keluarga

Tujuan keperawatan keluarga secara umum adalah kemandirian keluarga dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Tujuan khusus keperawatan keluarga adalah keluarga mampu melaksanakan tugas berikut ini (9):

a)      Mengenal masalah kesehatan yang dihadapi anggota keluarga merupakan kemampuan keluarga dalam mengenal masalah kesehatan seluruh anggota keluarga.

b)      Membuat keputusan secara tepat dalam mengatasi masalah kesehatan anggota keluarga yaitu kemampuan keluarga dalam mengambil keputusan untuk membawa anggota keluarga ke pelayanan kesehatan.

c)      Memberi perawatan pada anggota keluarga yang mempunyai masalah kesehatan merupakan kemampuan keluarga dalam merawat anggota keluarga yang sakit.

d)      Memodifikasi lingkungan yang kondusif adalah kemampuan keluarga dalam mengatur lingkungan, sehingga mampu mempertahankan kesehatan dan memelihara pertumbuhan serta perkembangan setiap anggota keluarga.

e)      Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan untuk pemeliharaan dan perawatan anggota keluarga yang mempunyai masalah kesehatan.

4.      Sasaran Keperawatan Keluarga

Sasaran keperawatan keluarga yaitu: (1) keluarga sehat yang merupakan keluarga dengan keadaan seluruh anggota keluarga dalam keadaan sehat, tetapi masih memerlukan antisipasi terkait siklus perkembangan; (2) Keluarga risiko tinggi dan rawan kesehatan; dan (3) keluarga yang memerlukan tindak lanjut (9).

5.      Keperawatan Keluarga dengan Anak Pertama (Child Bearing)

Keperawatan keluarga dengan anak pertama tidak menjadikan individu dalam keluarga sebagai klien tetapi menjadikan keluarga sebagai klien dan individu sebagai konteks. Fokus keperawatan pada kesehatan dan kesejahteraan dibandingan prosedur dan pengobatan medis. Perawat harus memahami dampak kebijakan pemerintah, lokasi tempat tinggal, keadaan demografi dan sumber yang tersedia. Selain itu, memahami stressor yang pernah dialami dan sedang dialamai keluarga dengan anak pertama diperlukan agar perawat dapat memberikan respon yang tepat (10). Pemberian intervensi keperawatan berkaitan dengan (10):

 a.       Keamanan dan kesehatan lingkungan

b.      Pendapat, nilai kepercayaan dan kecemasan atau ketakutan terkait anaknya

c.       Mendampingi keluarga mencari sumber nutrisi yang baik

d.      Mengidentifikasi hambatan pengasuhan anak

e.       Mendampingi dan membantu keluarga memperoleh informasi terkait pengasuhan anak

f.        Fasilitas kesehatan yang dapat digunakan

g.      Edukasi tentang perawatan dan pengasuhan, hambatan yang akan dihadapi dan bagaimana cara memberikan respon kepada anak mereka.

h.      Membantu orangtua mengembangkan kemampuan baru dan cara berinteraksi selama proses pemberian asuhan kepada anak mereka

i.        Nilai perlekatan antara orangtua dengan anak

j.        Memotivasi orangtua untuk berbagi pengalaman dengan orangtua lainnya

k.      Mendampingi keluarga mencari dukungan yang bisa berasal dari teman, orang tua, dan kelompok orang tua

l.        Membantu orangtua mengetahui kekuatan yang dimiliki dalam pemberian asuhan

m.    Peningkatan kemampuan anggota keluarga lainnya dalam pemberian asuhan

n.      Menginformasikan orang tua tentang bagaimana cara mengatasi kelelahan akibat proses pengasuhan

o.      Meningkatakan keercayaan diri orangtua

 

C.     Konsep Anak Usia Toddler

Anak usia toddler adalah anak dengan periode usia 12 bulan s/d 36 bulan, merupakan masa dimana terjadi peningkatan eksplorasi lingkungan, belajar tentang bagaimana sesuatu bekerja dan kemudian berhasil dalam melakukan sesuatu, makna kata “tidak”, serta belajar tentang hubungan (11). 

1.      Tahap Perkembangan Anak Usia Toddler

a.       Perkembangan Biologis (1,11)

BB rata-rata pada usia 2 tahun yaitu 12 kg, dan proses penambahan BB rata-rata 1,8 s/d 2,7 kg/ tahun. Peningkatan TB cenderung lambat, rata-rata pertambahan TB yaitu 7,5 cm / tahun. TB rata-rata pada usia toddler yaitu 86,6 cm. Abdomen toddler cenderung membuncit, hal ini dikarenakan otot abdomen belum berkembang dengan baik. Seiring dengan peningkatan kemampuan berjalan, spinal toddler yang berbentuk lordosis akan menjadi normal kembali.

Ketajaman penglihatan 20/40 pada toddler masih dikategorikan normal. Binocular vision telah berkembang secara sempurna, adanya strabismus yang persisten harus dikonsultasikan ke ahlinya untuk mendapat penanganan sehingga kejadian amblyophia dapat dicegah. Persepsi kedalaman terus mengalami perkembangan, tetapi karena koordinasi motorik toddler belum sempurna, sehingga toddler beresiko mengalami bahaya akibat jatuh dari ketinggian. Sensasi pendengaran, penciuman, dan perabaan berkembang semakin baik pada usia ini, terjadi proses koordinasi antara indera yang satu dengan yang lainnya, dan diasosiasikan dengan berbagai pengalaman.

Frekuensi respirasi sedikit melambat, heart rate juga melambat dengan frekuensi berkisar diantara 90-110x/ menit. Perkembangan otak berkembang sempurna 75% pada akhir usia 2 tahun. Pada sistem pernafasan, terjadi pelebaran saluran lumen sehingga risiko infeksi saluran pernafasan semakin rendah. Kapasitas lambung meningkat dan sekresi lambung lebih asam sehingga risiko infeksi pada sistem gastrointestinal juga semakin rendah. Kontrol sfinkter uretra dan anus semakin sempurna sehingga dapat dilakukan toilet training. Produksi IgG dan IgM menjadi matur pada usia 2 tahun, dan pasif imunitas yang diperoleh selama kehidupan intaruteri tidak lagi berfungsi.

Perkembangan motorik pada toddler mayoritas terjadi pada kemampuan lokomotor. Pada usia 12-13 bulan toddler berjalan dengan berpegangan untuk menjaga keseimbangannya. Usia 18 bulan toddler berusah berlari tetapi mudah jatuh. Kemudian terjadi peningkatan kemampuan koordinasi dan keseimbangan, sehingga selanjutnya toddler dapat menaiki dan menuruni tangga. Perkembangan motorik halus pada usia 12 bulan yaitu toddler dapat memungut benda kecil dengan ibu jari dan jari telunjuk. Pada usia 15 bulan toddler dapat memegang pensil atau krayon dan membuat coretan, memasukan sesuatu ke dalam botol dengan leher berukuran kecil, memungut dan melempar objek, selanjutnya dapat mengambil bola dan melemparnya melalui atas kepala tanpa kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Pada akhir usia 24 bulan toddler dapat menirukan menggambar garis lurus dan lingkaran dan menyusun 7. Usia 36 bulan dapat menyusun 8 kubus atau lebih. Pada usia 15 bulan mampu memegang pensil atau karon dan membuat coretan berbentuk garis atau lingkaran tidak sempurna.

b.      Perkembangan Psikologis

Otonomi versus rasa malu, berpusat pada kemampuan anak untuk mengontrol tubuh dan lingkungannya, ingin melakukan hal-hal yang ingin dilakukan sendiri dengan menggunakan kemampuan yang sudah mereka miliki (misalnya: anak akan puas jika bisa berjalan, memanjat tanpa dikoreksi orang lain) Anak akan meniru perilaku orang lain disekitarnya dan hal ini merupakan proses belajar. Rasa otonomi diri perlu dikembangkan untuk terbentuknya rasa percaya diri dan harga diri, perasaan malu dan ragu akan timbul bila anak merasa tidak mampu untuk mengatasi segala tindakan yang dipilih dan kurang dapat dukungan dari kedua orangtua dan lingkungan, atau anak sering dipaksa/ selalu diintervensi (11).

c.       Perkembangan Kognitif (11)

1)      Sensoris-Motorik

13-18 bulan:

Secara aktif bereksperimen untuk mencapai sesuatu yang belum dapat tercapai sebelumnya, meningkatkan konsep tentang suatu objek, membedakan dirinya sendiri dengan objek lainnya, mengembangkan deferred-imitation, dan insight learning.

19-24 bulan:

Kesadaran akan keberadaan suatu objek walau objek tersebut tidak terlihat lagi atau berpindah tempat berulang kali Menyimpulkan penyebab sesuatu terjadi jika mengalaminya sendiri Peningkatan perkembangan deferred-imitation. Menyadari akan waktu, antisipasi, memori dan kemampuan untuk menunggu. Egosentris proses berpikir dan berperilaku serta mengorganisasikan pemikiran secara umum.

2)      Pre Operasional

24-36 bulan

Peningkatan kemampuan berbicara sebagai simbolisasi mental. Egosentris selama proses berpikir, bermain dan berperilaku. Peningkatan kesadaran akan waktu, ruang dan hubungan sebab akibat.

2.      Keselamatan Anak Usia Toddler (12)

a.       Kendaraan

-          Sediakan kursi khusus untuk toddler dan jangan terdistraksi saat berkendara

-          Jangan ijinkan toddler bermain diluar tanpa pengawasan dan bermain-main dengan pintu garasi

-          Awasi toddler saat bermain dengan sepeda mainannya

b.      Jatuh

-          Jaga agar jendela rumah selalu tertutup atau ada pengaman jendela

-          Jangan ijinkan toddler berjalan sambil memegang benda tajam atau memasukan sesuatu di mulut saat berjalan

-          Tinggikan penghalang tempat tidur dan pastikan terkunci saat akan meninggalkan toddler sendiri

c.       Aspirasi

-          Singkirkan mainan berukucal kecil yang bisa menyebabkan toddler tersedak

-          Jangan beri makan toddler kacang dan popcorn, jangan tinggal toddler sendirian dengan balon, dan jangan ijinkan makan sambil berlari

d.      Tenggelam

Jangan tinggalkan toddler sendirian didekat air dan di bathtub

e.       Keracunan

Jangan ajarkan kepada toddler bahwa obat adalah permen, setelah pemberian obat segera amankan obat di tempat yang tidak bisa dijangkau.

f.        Luka Bakar

-          Jauhkan air panas, kopi atau the panas dari jangkaun toddler,

-          Jangan minum minuman yang panas saat sedang memangku toddler

-          Jauhkan pemantik api dari jangkauan toddler

-          Pastikan soket listrik dalam keadaan aman

g.      Keamanan Secara Umum

Selalu mengawasi toddler dan memahami bahwa bebrapa toddler lebih aktif sehingga tingkat pengawasan harus lebih ditingkatkan.

3.      Nutrisi Anak Usia Toddler

Pada usia 1-3 tahun toddler makan 3x/hari dengan asupan kalori sebesar 1000 kcal dan disajikan dalam bentuk makanan yang bervariasi. Pemunuhan kebutuhan protein dan karbohidrat umumnya yang paling mudah dipenuhi. Jauhi makanan dengan kaandungan gula yang tinggi untuk menghindari kejadian obesitas. Makanan tinggi lemak juga harus dibatasi ketat, dan setelah usia 2 tahun asupan lemak antara 30% dan 35%. Sumber lemak yang diperoh berasal dari polyunsaturated fatty acids (PUFA) dan monounsaturated fatty acids (MUFA), seperti ikan, kacang, dan minyak sayur. Asupan kalsium dan fosfor adekuat untuk tulang dan mineralisasi (12).

4.      Toilet Training

Keberhasilan toilet training merupakan salah satu hal penting yang harus dicapai selama masa toddler dan menjadi tugas besar bagi orangtua. Mayoritas orang tua dengan anak pertama akan menanyakan pada usia berapa dimulai toilet training, usia keberhasilan toilet training dan bagaimana melakukannya. Perawat berperan penting dalam membantu pemberian health education kepada orang tua untuk membantu proses peningkatan penggunaan toilet (11,13).

Kontrol sfinkter uretra dan anus dicapai pada usia 18-24 bulan saat anak mulai bisa berjalan, tetapi keadaan psikofisiologis yang kompleks menjadi salah satu faktor yang dibutuhkan anak agar siap melakukan toilet training. Anak harus mampu mengenal sensasi keinginan BAK atau BAB, menahan atau melepaskannya, serta mengkomunikasikan hal tersebut dengan orangtua. Pengontrolan blader saat malam hari membutuhkan waktu lebih lama, hal ini karena dibutuhkan siklus tidur yang matur sehingga anak bisa bangun pada waktu yang tepat untuk BAK (11,12). Sebelum melakukan toilet training perawat perlu dilakukan asesmen kesiapan pelaksanaan toilet training (11):

a.       Kesiapan Fisik

1)      Anak dapat mengontrol sfinkter uretra dan anus, normalnya hal ini terjadi pada usia 22 s/d 30 bulan

2)      Kemampuan untuk tetap kering selama 2 jam, jumlah diapers yang basah menurun, dan bangun dari tidur siang dalam keadaan kering

3)      Kemampuan motorik kasar: anak mampu duduk, berjalan dan jongkok

4)      Kemampuan motorik halus: anak mampu membuka baju atau celana

b.      Kesiapan Psikososial

1)      Anak mengenal sensasi keinginan BAB dan BAK

2)      Kemampuan verbal atau non verbal anak untuk menyampaikan saat basah atau memiliki keinginan untuk BAB atau BAK

3)      Kemampuan kognitif untuk menirukan perilaku yang tepat dan mengikuti instruksi

4)      Kemampuan duduk di atas kloset selama 5-8 menit tanpa rewel, gelisah dan berpindah

5)      Mempunyai rasa keingintahuan akan kebiasaan pergi ke toilet setelah melihat orang tua atau saudara

6)      Merasa tidak nyaman dengan keadaan diapers yang basah dan keinginan untuk segera menggantinya

c.       Kesiapan Orang Tua

Kesiapan orang tua dengan mempersiapkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan toilet training menjadi faktor penentu keberhasilan peningkatan penggunaan toilet  (13).

1)      Mengetahui kesiapan anak

2)      Bersedia meluangkan waktu untuk proses toilet training

3)      Tidak sedang mengalami stres, proses pindah rumah, adanya saudara baru, dan akan melakukan liburan

 

D.    Diagnosa Keperawatan dan Rencana Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Anak Pertama (Child Bearing) (12)

1.      Hambatan menjadi orang tua berhubungan dengan ketrampilan merawat anak tidak tepat (00056)

2.      Disfungsi proses keluarga berhubungan dengan kurang keterampilan pemecahan masalah (00063)

3.      Kesiapan meningkatkan menjadi orang tua (00164)

 

E.     Penentuan Prioritas Diagnosa Keperawatan Keluarga

No

Kriteria

Nilai

Bobot

1.

Sifat Masalah

-          Tidak/ kurang sehat

-          Ancaman kesehatan

-          Keadaan sejahtera

 

3

2

1

1

2.

Kemungkinan Masalah Dapat Diubah

-          Mudah

-          Sebagian

-          Tidak dapat

 

2

1

0

2

3.

Potensi Masalah Untuk Dicegah

-          Tinggi

-          Cukup

-          Rendah

 

3

2

1

1

4.

Menonjolnya Masalah

-          Masalah berat harus segera ditangani

-          Ada masalah tetapi tidak perlu segera ditangani

-          Masalah tidak dirasakan

 

2

1

0

1

 

Skor Prioritas:

Prioritas didasarkan pada diagnosa keperawatan yang mempunyai skor tertinggi dan disusun berurutan sampai skor terendah.

 

F.     Nursing Care Plan

No

Diagnosa

NOC

NIC

1.

Hambatan menjadi orang tua berhubungan dengan ketrampilan merawat anak tidak tepat (00056)

Kinerja Pengasuhan: Toddler (2907)

Indikator

T

Memelihara lingkungan tidur yang aman

5

Mengarahkan latihan toilet training pada anak saat anak sudah siap

5

Menggunakan strategi untuk mencegah cedera

5

Keterangan:

T= Target

1:

Tidak pernah menunjukkan

2:

Jarang menunjukkan

3:

Kadang-kadang menunjukkan

4:

Sering menunjukkan

5:

Secara konsisten menunjukkan

 

 

Pengajaran keselamatan balita 19-24 bulan (5666):

-          Instruksikan orang tua atau pengasuh untuk memasang di mobil sesuai dengan rekomendasi pabriknya

-          Instruksikan orangtua atau pengasuh untuk menyimpan benda tajam peralatan dan perlengkapan dapur diluar jangkauan anak

-          Instruksikan orang tua untuk menginstruksikan anak mengenai bahaya dari jalan

-          Instruksikan orang tua untuk menyimpan semua bahan pembersih obat-obatan dan produk perawatan diri di luar jangkauan anak-anak

-          Instruksikan orang tua untuk ada penghalang ganda ke area kolam renang atau bak air panas

Pengajaran latihan toilet (5634):

-          Ajarkan orang tua/ keluarga bagaimana cara menentukan kesiapan fisik anak untuk belajar menggunakan toilet

-          Ajarkan orang tua/ keluarga bagaimana mengenali kesiapan anak secara psikososial untuk menggunakan toilet

-          Ajarkan orang tua/ keluarga mengenai bagaimana menentukan kesiapan orang tua/ keluarga dalam melatih anak menggunakan toilet

-          Sediakan informasi terkait strategi untuk meningkatkan penggunaan toilet

-          Dukung keluarga untuk melalui semua proses ini

-          Dukung keluarga untuk fleksibel dan kreatif dalam mengembangkan dan menerapkan strategi latihan

2.

Disfungsi proses keluarga berhubungan dengan kurang keterampilan pemecahan masalah (00063)

Fungsi Keluarga (2602)

Indikator

T

Mengalokasikan tanggung jawab antara anggota keluarga

5

Beradaptasi terhadap adanya perkembangan transisi

5

Menciptakan lingkungan dimana anggota keluarga secara terbuka dapat mengungkapkan perasaannya

5

Melibatkan anggota keluarga dalam pemecahan masalah

5

Keterangan:

T = Target

1:

Tidak pernah menunjukkan

2:

Jarang menunjukkan

3:

Kadang-kadang menunjukkan

4:

Sering menunjukkan

5:

Secara konsisten menunjukkan

Pemeliharaan Proses Keluarga (7130):

-          Tentukan proses keluarga yang khas

-          Tentukan gangguan khas pada proses keluarga

-          Identifikasi efek perubahan peran terhadap proses keluarga

-          Diskusikan strategi untuk menormalkan kehidupan keluarga dengan seluruh anggota keluarga

-          Bantu anggota keluarga untuk menerapkan strategi normalisasi terhadap situasi yang mereka hadapi

-          Bantu anggota keluarga untuk menggunakan mekanisme dukungan yang ada

-          Sediakan mekanisme bagi keluarga untuk tetap tinggal dan berkomunikasi dengan anggota keluarga lain

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.

Kesiapan meningkatkan menjadi orang tua (00164)

Populasi berisiko: orangtua meningkatkan keinginan untuk meningkatkan dukungan emosi terhadap individu bergantung

Kinerja Pengasuhan (2211)

Indikator

T

Menyediakan kebutuhan fisik anak

5

Menyediakan kebutuhan khusus anak

5

Menyediakan pengawasan yang tepat pada anak

5

Menggunakan interaksi yang tepat untuk temperamen anak

5

Berinteraksi positif pada anak

5

Keterangan:

T = Target

1:

Tidak pernah menunjukkan

2:

Jarang menunjukkan

3:

Kadang-kadang menunjukkan

4:

Sering menunjukkan

5:

Secara konsisten menunjukkan

Peningkatan pengasuhan (8300):

-          Identifikasi dan daftarkan keluarga yang berada pada risiko tinggi dalam program tindak lanjut

-          Buat kunjungan rumah sesuai dengan tingkat risiko

-          Bantu orang tua untuk memiliki harapan yang realistis sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan anak

-          Bantu orang tua terkait dengan perang transisi dan harapan

-          Sediakan pamflet, buku, dan bahan lainnya untuk mengembangkan keterampilan pengasuhan

-          Bahas strategi manajemen perilaku yang sesuai dengan usia

-          Rujuk orang tua pada kelompok dukungan orang tua yang sesuai

-          Bantu orang tua dalam mengembangkan, memelihara dan menggunakan sistem dukungan sosial

-          Dengarkan masalah dan kekhawatiran orang tua tanpa kesan menghakimi orang tua tersebut

-          Ajarkan dan berikan contoh terkait dengan keterampilan koping

-          Tingkatkan keterampilan pemecahan masalah

  

Daftar Pustaka

 

1.    Hanson SMH, Gedaly-Duff V, Kaakinen JR. Family Health Care Nursing: Theory Practice and Research. 3rd ed. Philadephia: F.A. Davis; 2005.

2.    Allender J, Spradley B. Community Health Nursing: Concept and Practice. 8th ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2005.

3.    Allender J, Rector C, Warner KD. Community Health Nursing: Promoting and Protecting the Public’s Health. 7th ed. Lippincott Williams & Wilkins; 2010.

4.    Pillitteri A. Maternal & Child Health Nursing: Care of Childbearing & Childrearing Family. Lippincott Williams & Wilkins; 2010.

5.    Friedman, Marilyn M. Buku Ajar Keperawatan Keluarga : Riset,Teori, dan Praktek. 5th ed. Jakarta: EGC; 2010.

6.    Kemenkes RI. Pedoman Peyelenggaraan Pelayanan Keperawatan Keluarga,. Kemenkes RI; 2010.

7.    AlKlayb SA, Assery MK, AlQahtani A, AlAnazi M, Pani SC. Comparison of the Effectiveness of a Mobile Phone-based Education Program in Educating Mothers as Oral Health Providers in Two Regions of Saudi Arabia. J Int Soc Prev Community Dent. 2017;7(3):110–5.

8.    Kim O, Barnekow K, Ahamed SI, Dreier S, Jones C, Taylor M, et al. Smartphone-Based Prenatal Education for Parents With Preterm Birth Risk Factors. Patient Education and Counseling [Internet]. 2018 Oct [cited 2018 Dec 21]; Available from: https://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/S0738399118309613

9.    Widagdo W. Keperawatan Keluarga dan Komunitas. Pusdik SDM Kesehatan Kemeterian Kesehatan Republik Indonesia; 2016.

10. Kaakinen JR, Coehlo DP, Steele R, Tabacco A, Hanson SMH. Family Health care Nursing: Theory, Practice, and Research. 5th ed. Philadelphia: F. A. Davis Company; 2015.

11. Hockenberry M, Wilson D. Wong’s Nursing Care of Infants and Chidren. Elsevier Mosby; 2015. (10th).

12. JoAnne S-F, Pillitteri A. Maternal and Child Health: Care of Childbearing and Childrearing. 8th ed. California: Wolters Kluwer; 2018.

13. Iryanti, Kamsatun. Pengaruh Modul Pemberdayaan Keluarga tentang Toilet Training terhadap Kemandirian Eliminasi Anak di PAUD. Jurnal Keperawatan Padjadjaran. 2016;

 

No comments:

Post a Comment

Kumpuluan Laporan Tahap Profesi Ners

Contoh Laporan Asuhan Keperawatan Keluarga

  ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA PADA TAHAP PERKEMBANGAN ANAK PERTAMA (CHILD BEARING) : ANAK USIA TODDLER DI KECAMATAN KASIHAN KABUPATEN BAN...