Thursday, November 18, 2021

Contoh Laporan Pendahuluan Keperawatan Gerontik

Cover


LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA KLIEN DENGAN HIPERTENSI

 

 

 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh:

Esa Kartika

NIM.200300731

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ALMA ATA YOGYAKARTA

2020

___________________________________________________________________________________

A.    Definisi

Hipertensi adalah suatu keadaan dimana tekanan sistolik sama dengan atau lebih dari 140 mmHg dan tekanan diastolik sama dengan atau lebih lebih dari 90 mmHg yang menetap setelah dilakukan pemeriksaan tekanan darah sebanyak dua kali atau lebih (1). Pertimbangan penentuan seseorang menderita hipertensi selain menggunakan tekanan darah juga dengan cara anamnesis dengan hasil klien pernah dinyatakan menderita hipertensi sebanyak 2 kali atau lebih oleh tenaga kesehatan dan mengkonsumsi obat anti hipertensi (2). Menurut WHO (2015) pada kasus hipertensi terjadi peningkatan tekanan darah yang persisten di dalam pembuluh darah arteri, keadaan ini menambah beban kerja jantung sehingga dapat mengakibatkan kerusakan jantung dan pembuluh darah, akan tetapi sebagian besar penderitanya tidak merasakan adanya tanda dan gejala sehingga hipertensi disebut juga dengan istilah “a silent killer” (3).

.

B.     Etiologi

Klasifikasi hipertensi berdasarkan penyebabnya:

1.      Hipertensi Primer/ Esensial

90% dari total angka kejadian hipertensi merupakan hipertensi primer (4). Penyebab hipertensi primer tidak diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang menderita hipertensi primer yaitu (2):

a.       Genetik

Seseorang dengan riwayat anggota keluarga penderita hipertensi memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipertensi.

b.      Jenis Kelamin dan Usia

Seorang wanita yang telah menopouse berisiko lebih tinggi mengalami hipertensi. Insidensi akan naik dengan penambahan usia seseorang dikarenakan terjadinya perubahan struktur dan fungsi jantung serta pembuluh darah. 

c.       Diet

Berkembangnya hipertensi berhubungan langsung dengan asupan diet tinggi natrium atau lemak.

d.      Berat badan (BB)

Seseorang dengan BB > 25 % di atas BB ideal (obesitas) berkaitan dengan berkembangnya hipertensi.

e.       Gaya hidup

Peningkatan tekanan darah akan terjadi jika seseorang memiliki gaya hidup merokok dan konsumsi alkohol yang menetap.

2.      Hipertensi Sekunder

Kasus hipertensi sekunder sebesar 10 % dari total kasus hipertensi disebabkan karena penyakit ginjal, pembuluh darah, endokrin, dan neorogenik (tumor otak, ensefalitis, gangguan psikiatris), kehamilan, penggunaan kontrasepsi oral dengan kandungan estrogen, coarctation aorta, luka bakar dan stress (2,4).

Klasifikasi tekanan darah (JNC 7, 2003) (5):

Klasifikasi

Tekanan Sistolik

(mmHg)

Tekanan Diastolik

(mmHg)

Normal

<120

<80

Prehipertensi

120-139

80-89

Hipertensi stage I

140-159

90-99

Hipertensi stage II

>160

>100

 

C.    Patofisiologi

Sistem baroreseptor arteri, pengaturan volume cairan tubuh, sistem renin angiotensin dan autoregulasi vaskular menjadi empat sistem kontrol yang berperan mempertahankan tekanan darah. Baroreseptor arteri pada sinus carotid, aorta dan dinding ventrikel kiri memonitor derajat tekanan arteri, dan apabila terjadi peningkatan akan berperan dalam proses meniadakan peningkatan arteri tersebut melalui mekanisme perlambatan jantung oleh respon vagal (stimulasi parasimpatis) dan vasodilatasi dengan penurunan tonus simpatis. Pada kasus hipertensi terjadi kegagalan kontrol yang penyebabnya belum diketahui. Tekanan arteri sistemik akan terpengaruh jika terjadi perubahan volume cairan. Jika tubuh mengalami kelebihan garam dan air akan mengakibatkan peningkatan curah jantung, pada keadaan patologis yang mengubah ambang tekanan pada ginjal dalam mengekskresikan garam dan air akan meningkatkan tekanan arteri sistemik (4).

Pada sistem renin angiotensin, renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokontriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal sehingga menyebabkan peningkatan volume intravaskuler. Sekresi renin yang tidak tepat diduga menjadi penyebab terjadinya hipertensi. Autoregulasi vaskular merupakan suatu proses yang mempertahankan perfusi jaringan dalam tubuh relatif konstan. Jika terjadi perubahan aliran maka proses-proses autoregulasi akan menurunkan tahanan vaskular d mengakibatkan pengurangan aliran, dan sebaliknya akan meningkatkan tahanan vaskular sebagai akibat peningkatan aliran (4,6).

Tanda dan gejala klien dengan hipertensi pada tahap awal biasanya asimptomatik, hanya ditandai dengan kenaikan darah sementara, tetapi akhirnya menjadi permanen. Ketika gejala muncul, biasanya samar. Sakit kepala, biasanya di tengkuk dan leher yang dapat muncul saat terbangun dan berkurang di siang hari. Gejala lain yang timbul sebagai akibat kerusakan organ target yaitu nokturi, bingung, mual, muntah, dan gangguan penglihatan. Pemeriksaan retina mata dapat menunjukkan penyempitan arteriol, hemoragi, eksudat, dan papiledema (7).

 

D.    Penatalaksanaan

Tujuan penatalaksanaan medis pada klien dengan hipertensi yaitu mencapai dan mempertahankan tekanan darah di bawah 140/90 mmHg dengan demikian dapat mencegah morbiditas dan mortalitas penyerta. Derajat hipertensi, komplikasi, biaya perawatan, dan kualitas hidup sehubungan dengan terapi menjadi penentu efektivitas setiap program. Obat-obat antihipertensi dapat dipakai sebagai obat tunggal atau dikombinasikan dengan obat lain. Obat-obatan ini diklasifikasikan menjadi lima kategori; (1) diuretik; (2) menekan simpatetik (simpatolitik); (3) vasodilator arteriol yang bekerja langsung; (4) antagonis angiotensin (ACE inhibitor); (5) penghambat saluran kalsium (blocker calcium antagonis) (8).

Hipertensi yang terjadi pada klien lanjut usia (lansia) semakin meningkatkan risiko terjadinya kematian dan komplikasi, oleh karena itu tujuan utama penatalaksanaan yaitu untuk menekan risiko terjadinya kejadian tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan cara melakukan modifikasi gaya hidup sebagai pendekatan penatalaksaan non farmakologis. Modifikasi gaya hidup yang dapat dilakukan antara lain: (1) teknik-teknik pengelolaan stress; (2) terapi relaksasi; pertahankan berat badan ideal dan turunkan berat badan jika obesitas; (3) lakukan modifikasi diet pembatasan asupan natrium dan pembatasan asupan kolesterol; (4) berhenti merokok; dan (5) olahraga/ latihan (7).

Hipertensi menjadi prediktor kualitas tidur lansia (9), dan apabila kualitas tidur buruk akan semakin memperburuk kondisi fisik dan mental lansia (9). Terapi komplementer seperti terapi musik, dan latihan relaksasi otot progresif terbukti dapat membantu meningkatkan kualitas tidur lansia dan mengurangi kecemasan (10–12). Hasil penelitian tersebut didukung hasil penelitian yang dilakukan Astuti N.F et al, (2017), relaksasi otot progresif dan musik (RESIK) dapat membantu menurunkan tekanan darah sistolik sehingga sangat direkomendasikan untuk dilakukan pada klien lansia dengan hipertensi (13).

 

E.     Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul

Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul yaitu (6,7):

1.      Berat badan berlebih berhubungan dengan intake yang berlebihan (00233)

2.      Insomnia berhubungan dengan ketidaknyamanan fisik (00095)

3.      Defisien pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi (00126)

4.      Risiko ketidakstabilan tekanan darah (00267)


F.    NIC dan NOC

1. Diagnosa 1

a.       Diagnosa Keperawatan

Berat badan berlebih berhubungan dengan intake yang berlebihan (00233)

 b.      Nursing Outcomes Classification (NOC)

Status Nutrisi (1004):

Indikator

T

Asupan gizi

5

Asupan makanan

5

Keterangan:

T = Target

1:

Sangat menyimpang dari rentang normal

2:

Banyak menyimpang dari rentang normal

3:

Cukup menyimpang dari rentang normal

4:

Sedikit menyimpang dari rentang normal

5:

Tidak menyimpang dari rentang normal

 c.       Nursing Interventions Classification (NIC)

Monitoring Nutrisi (2620):

-          Timbang berat badan klien

-          Lakukan pengukuran antropometrik pada komposisi tubuh

-          Monitor diet dan asupan kalori

-          Monitor tipe dan banyaknya latihan yang biasa dilakukan

-          Diskusikan peran dari aspek sosial dan emosi terkait dengan mengkonsumsi makanan

-          Tentukan pola makan

-          Tentukan faktor-faktor yang mempengaruhi asupan nutrisi

Pengajaran: Peresepan Diet (5614):

-          Kaji tingkat pengetahuan klien mengenai diet yang disarankan

-          Kaji pola makan klien saat ini dan sebelumnya termasuk makanan yang disukai dan pola makan saat ini

-          Kaji klien dan keluarga mengenai pandangan, kebudayaan, dan faktor lainyang mempengaruhi kemauan pasien dalam mengikuti diet yang disarankan

-          Kaji adanya keterbatasan finansial yang dapat mempengaruhi pembelian makanan yang disarankan

-          Ajarkan klien nama-nama makanan yang sesuai dengan diet yang disarankan

-          Jelaskan pada klien mengenai tujuan kepatuhan terhadap diet yang disarankan terkait dengan kesehatan

-          Instruksikan klien untuk menghindari makanan yang dipantang dan mengkonsumsi makanan yang diperbolehkan

-          Bantu klien untuk memilih makanan kesukaan yang sesuai dengan diet yang disarankan

-          Observasi bagaimana klien memilih makanan

-          Sediakan contoh menu yang sesuai

-          Rujuk pasien ke ahli gizi jika diperlukan

-          Libatkan klien dan keluarga


2. Diagnosa 2

a.       Diagnosa Keperawatan

Insomnia berhubungan dengan ketidaknyamanan fisik (00095)

b.      Nursing Outcomes Classification (NOC)

Tidur (0004):

Indikator

T

Pola tidur

5

Kualitas tidur

5

Kesulitan memulai tidur

5

Keterangan:

T= Target

1:

Sangat terganggu

2:

Banyak terganggu

3:

Cukup terganggu

4:

Sedikit terganggu

5:

Tidak terganggu

c.       Nursing Interventions Classification (NIC)

Peningkatan Tidur (1850):

-          Jelaskan pentingnya tidur yang cukup

-          Anjurkan klien untuk memantau pola tidur

-          Sesuaikan lingkungan untuk meningkatkan tidur

-          Anjurkan klien untuk menghindari makanan sebelum tidur dan minuman yang mengganggu tidur

-          Ajarkan klien bagaimana melakukan relaksasi atau bentuk non farmakologis lainnya untuk memancing tidur

-          Diskusikan dengan klien dan keluarga mengenai teknik untuk meningkatkan tidur

Terapi Musik (44000):

-          Pertimbangkan minat klien pada musik

-          Identifikasi musik yang disukai klien

-          Pilih musik-musik yang tertentu yang mewakili musik yang disukai klien

-          Batasi stimulasi eksternal

-       Pastikan volume adekuat dan tidak terlalu keras

3. Diagnosa 3

a.       Diagnosa Keperawatan

Defisien pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi (00126)

b.      Nursing Outcomes Classification (NOC)

Pengetahuan: Manajemen Hipertensi (1837):

Indikator

T

Target tekanan darah

5

Komplikasi potensial hipertensi

5

Penggunaan yang benar dari obat yang diresepkan

5

Pentingnya mematuhi pengobatan

5

Strategi untuk membatasi intake sodium

5

Manfaat olahraga secara teratur

5

Keterangan:

T= Target

1:

Tidak ada pengetahuan

2:

Pengetahuan terbatas

3:

Pengetahuan sedang

4:

Pengetahuan banyak

5:

Pengetahuan sangat banyak

c.       Nursing Interventions Classification (NIC)

Pengajaran Individu (5606):

-          Bina hubungan baik

-          Pertimbangkan kesiapan klien untuk belajar

-          Nilai tingkat pengetahuan dan pemahaman klien saat ini

-          Nilai tingkat pendidikan pasien

-          Nilai kemampuan klien untuk mempelajari informasi

-          Atur bersama, tujuan pembelajaran yang realistis dengan klien

-          Tentukan urutan untuk menyajikan informasi

-          Pilih metode dan strategi pengajaran yang tepat

-          Pilih material pendidikan yang tepat

-          Berikan pamflet instruksional, video, dan sumber (pembelajaran) secara online

-          Evaluasi prestasi klien terkait dengan tujuan yang dinyatakan

-          Puji perilaku dengan tepat

-          Koreksi informasi yang salah

-   Dokumentasikan konten yang disajikan, bahan tertulis yang diberikan, penerimaan dan pemahaman klien, dan perilaku klien yang menunjukkan pembelajaran

                  -          Sertakan keluarga 

4. Diagnosa 4

a.       Diagnosa Keperawatan

Risiko ketidakstabilan tekanan darah (00267)

b.      Nursing Outcomes Classification (NOC)

 

Manajemen Diri: Hipertensi (3107):

Indikator

T

Menggunakan obat sesuai resep

5

Membatasi konsumsi kafein

5

Menggunakan teknik relaksasi secara konsisten

5

Keterangan:

T= Target

1:

Tidak pernah menunjukkan

2:

Jarang menunjukkan

3:

Kadang-kadang menunjukkan

4:

Sering menunjukkan

5:

Secara konsisten menunjukkan

 

c.       Nursing Interventions Classification (NIC)

Pengajaran Peresepan Obat-Obatan (5616):

-          Informasikan klien konsekuensi tidak mengkonsumsi obat

-          Libatkan keluarga/ orang terdekat sesuai kebutuhan

Pengajaran: Peresepan Diet (5614):

-          Kaji pola makan klien saat ini dan sebelumnya termasuk makanan yang disukai dan pola makan saat ini

-          Kaji klien dan keluarga mengenai pandangan, kebudayaan, dan faktor lainyang mempengaruhi kemauan pasien dalam mengikuti diet yang disarankan

-          Jelaskan pada klien mengenai tujuan kepatuhan terhadap diet yang disarankan terkait dengan kesehatan

-          Instruksikan klien untuk menghindari makanan yang dipantang dan mengkonsumsi makanan yang diperbolehkan

(secara bertahap menghentikan konsumsi kafein hal ini dikarenakan konsumsi kafein terbukti dapat meningkatkan tekanan darah sistolik (14))

-          Libatkan keluarga

Relaksasi otot progresif (1460):

-          Jelaskan tujuan dan proses teknik pada klien

-          Instruksikan pasien untuk memakai pakaian yang nyaman dan tidak ketat

-          Memilih seting yang tenang dan nyaman

-          Berhati-hati untuk mencegah interupsi

-          Instruksikan klien untuk duduk di kursi atau berbaring pada permukaan yang nyaman

-          Instruksikan klien untuk mengambil nafas melalui perut dan menahan untuk beberapa detik dan kemudian menghembuskan dengan pelan

-          Minta klien untuk mengulangi nafas panjang beberapa waktu, meminta klien untuk membayangkan ketegangan dilepaskan dari tubuh pada setiap menghembuskan nafas

-          Biarkan klien tegang selama 5-10 detik

-          Instruksikan kepada klien untuk berfokus pada sensasi yang terjadi dalam otot ketika klien menjadi tegang

-          Instruksikan klien untuk berfokus pada sensasi otot pada saat rileks

-          Mulai meminta klien untuk mengambil nafas dalam dan mengencang kan otot di dahi dengan menaikkan alis mata setinggi mungkin untuk 5-10 detik dan kemudian melepaskan ketegangan berfokus pada perasaan dari relaksasi otot yang dia hembuskan

-          Cek klien secara periodik dalam rangka menjamin agar kelompok otot menjadi rileks

-          Tegangkan kelompok otot klien lagi jika relaksasi tidak terjadi

-          Berhenti untuk 10 detik sebelum berpindah ke grup otot lain

-          Monitor indikator akan tidak adanya kondisi rileks, misalnya pergerakan, pernafasan yang sulit, nafas sulit, bicara dan batuk

-          Instruksikan pada klien untuk bernafas dalam dan pelan

-          Kembangkan pola relaksasi yang bersifat personal yang membuat klien untuk tetap fokus dan merasa nyaman

-          Akhirnya sesi relaksasi secara berangsur.

-          Berikan waktu bagi klien untuk mengekspresikan perasaan terkait dengan intervensi

-          Dukung klien untuk mempraktikkan sesi secara teratur

Daftar Pustaka

1.         Joint National Committee. The Sixth Report of the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure. USA: National Institutes of Health; 1997 Nov.

2.         Sommers MS. Davis’s diseases and disorders: a nursing therapeutics manual. Sixth edition. Philadelphia: F. A. Davis Company; 2019. 1 p.

3.         Noncommunicable diseases: Hypertension [Internet]. 2015 [cited 2020 Nov 3]. Available from: https://www.who.int/news-room/q-a-detail/noncommunicable-diseases-hypertension

4.         Udjianti WJ. Keperawatan Kardiovaskular. Jakarta: Salemba Medika; 2010.

5.         Joint National Committee. The Seventh Report of the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure. USA: National Institutes of Health; 2004 Agustus.

6.         Smeltzer SC, Bare BG, Johnson JY. Brunner & Suddarth’s Textbook Of Medical-Surgical Nursing. 10th ed. Lippincott Williams & Wilkins; 2003.

7.         LeMone P, Burke KM, Bauldoff G. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah: Gangguan Kardiovaskular. 5th ed. Linda A, editor. Jakarta: EGC; 2019.

8.         Mutaqqin A. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Kardiovaskular. Nurachmach E, editor. Jakarta: Salemba Medika; 2020.

9.         Yang C-Y, Chiou A-F. Predictors of Sleep Quality in Community-Dwelling Older Adults in Northern Taiwan: J Nurs Res. 2012 Dec;20(4):249–60.

10.       Sulidah, Yamin A, Susanti RD. Pengaruh Latihan Relaksasi Otot Progresif terhadap Kualitas Tidur Lansia. J Keperawatan Indones. 2016;4:10.

11.       Junaidi J, Noor Z. Penurunan Tingkat Kecemasan Pada Lansia Melalui Terapi Musik Langgam Jawa. J Keperawatan Indones. 2010 Nov 24;13(3):195–201.

12.       Feng F, Zhang Y, Hou J, Cai J, Jiang Q, Li X, et al. Can music improve sleep quality in adults with primary insomnia? A systematic review and network meta-analysis. Int J Nurs Stud. 2018 Jan;77:189–96.

13.       Astuti NF, Rekawati E, Wati DNK. Decreased blood pressure among community dwelling older adults following progressive muscle relaxation and music therapy (RESIK). BMC Nurs [Internet]. 2019 Aug [cited 2020 Nov 3];18(S1). Available from: https://bmcnurs.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12912-019-0357-8

14.       Farag NH, Whitsett TL, McKey BS, Wilson MF, Vincent AS, Everson-Rose SA, et al. Caffeine and Blood Pressure Response: Sex, Age, and Hormonal Status. J Womens Health. 2010 Jun;19(6):1171–6.

 


No comments:

Post a Comment

Kumpuluan Laporan Tahap Profesi Ners

Contoh Laporan Asuhan Keperawatan Keluarga

  ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA PADA TAHAP PERKEMBANGAN ANAK PERTAMA (CHILD BEARING) : ANAK USIA TODDLER DI KECAMATAN KASIHAN KABUPATEN BAN...