Cover
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN
PADA KLIEN DENGAN HIPERTENSI
Oleh:
Esa Kartika
NIM.200300731
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ALMA ATA YOGYAKARTA
2020
___________________________________________________________________________________
A. Definisi
Hipertensi
adalah suatu keadaan dimana tekanan sistolik sama dengan atau lebih dari 140
mmHg dan tekanan diastolik sama dengan atau lebih lebih dari 90 mmHg yang
menetap setelah dilakukan pemeriksaan tekanan darah sebanyak dua kali atau
lebih (1). Pertimbangan penentuan seseorang menderita hipertensi selain
menggunakan tekanan darah juga dengan cara anamnesis dengan hasil klien pernah
dinyatakan menderita hipertensi sebanyak 2 kali atau lebih oleh tenaga
kesehatan dan mengkonsumsi obat anti hipertensi (2). Menurut WHO (2015) pada kasus hipertensi terjadi peningkatan
tekanan darah yang persisten di dalam pembuluh darah arteri, keadaan ini
menambah beban kerja jantung sehingga dapat mengakibatkan kerusakan jantung dan
pembuluh darah, akan tetapi sebagian besar penderitanya tidak merasakan adanya
tanda dan gejala sehingga hipertensi disebut juga dengan istilah “a silent killer” (3).
.
B. Etiologi
Klasifikasi hipertensi berdasarkan penyebabnya:
1.
Hipertensi Primer/ Esensial
90% dari total angka kejadian hipertensi merupakan
hipertensi primer (4). Penyebab hipertensi primer tidak diketahui secara pasti, tetapi
ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang menderita
hipertensi primer yaitu (2):
a.
Genetik
Seseorang dengan
riwayat anggota keluarga penderita hipertensi memiliki risiko lebih tinggi mengalami
hipertensi.
b.
Jenis Kelamin dan Usia
Seorang wanita yang telah menopouse berisiko lebih tinggi mengalami hipertensi. Insidensi akan naik dengan penambahan usia seseorang dikarenakan terjadinya perubahan struktur dan fungsi jantung serta pembuluh darah.
c.
Diet
Berkembangnya
hipertensi berhubungan langsung dengan asupan diet tinggi natrium atau lemak.
d.
Berat badan (BB)
Seseorang dengan BB
> 25 % di atas BB ideal (obesitas) berkaitan dengan berkembangnya
hipertensi.
e.
Gaya hidup
Peningkatan tekanan
darah akan terjadi jika seseorang memiliki gaya hidup merokok dan konsumsi
alkohol yang menetap.
2.
Hipertensi Sekunder
Kasus hipertensi sekunder sebesar 10 % dari
total kasus hipertensi disebabkan karena penyakit ginjal, pembuluh darah,
endokrin, dan neorogenik (tumor otak, ensefalitis, gangguan psikiatris),
kehamilan, penggunaan kontrasepsi oral dengan kandungan estrogen, coarctation aorta, luka bakar dan stress
(2,4).
Klasifikasi tekanan darah (JNC 7, 2003) (5):
|
Klasifikasi |
Tekanan Sistolik (mmHg) |
Tekanan Diastolik (mmHg) |
|
Normal |
<120 |
<80 |
|
Prehipertensi |
120-139 |
80-89 |
|
Hipertensi stage I |
140-159 |
90-99 |
|
Hipertensi stage II |
>160 |
>100 |
C.
Patofisiologi
Sistem baroreseptor arteri,
pengaturan volume cairan tubuh, sistem renin angiotensin dan autoregulasi vaskular
menjadi empat sistem kontrol yang berperan mempertahankan tekanan darah. Baroreseptor
arteri pada sinus carotid, aorta dan dinding ventrikel kiri memonitor derajat
tekanan arteri, dan apabila terjadi peningkatan akan berperan dalam proses
meniadakan peningkatan arteri tersebut melalui mekanisme perlambatan jantung
oleh respon vagal (stimulasi parasimpatis) dan vasodilatasi dengan penurunan
tonus simpatis. Pada kasus hipertensi terjadi kegagalan kontrol yang
penyebabnya belum diketahui. Tekanan arteri sistemik akan terpengaruh jika
terjadi perubahan volume cairan. Jika tubuh mengalami kelebihan garam dan air
akan mengakibatkan peningkatan curah jantung, pada keadaan patologis yang
mengubah ambang tekanan pada ginjal dalam mengekskresikan garam dan air akan
meningkatkan tekanan arteri sistemik (4).
Pada sistem renin angiotensin, renin
merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin
II, suatu vasokontriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi
aldosteron oleh korteks adenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air
oleh tubulus ginjal sehingga menyebabkan peningkatan volume intravaskuler. Sekresi
renin yang tidak tepat diduga menjadi penyebab terjadinya hipertensi. Autoregulasi
vaskular merupakan suatu proses yang mempertahankan perfusi jaringan dalam
tubuh relatif konstan. Jika terjadi perubahan aliran maka proses-proses
autoregulasi akan menurunkan tahanan vaskular d mengakibatkan pengurangan
aliran, dan sebaliknya akan meningkatkan tahanan vaskular sebagai akibat
peningkatan aliran (4,6).
Tanda dan gejala klien dengan
hipertensi pada tahap awal biasanya asimptomatik, hanya ditandai dengan
kenaikan darah sementara, tetapi akhirnya menjadi permanen. Ketika gejala
muncul, biasanya samar. Sakit kepala, biasanya di tengkuk dan leher yang dapat
muncul saat terbangun dan berkurang di siang hari. Gejala lain yang timbul
sebagai akibat kerusakan organ target yaitu nokturi, bingung, mual, muntah, dan
gangguan penglihatan. Pemeriksaan retina mata dapat menunjukkan penyempitan
arteriol, hemoragi, eksudat, dan papiledema (7).
D. Penatalaksanaan
Tujuan penatalaksanaan medis pada
klien dengan hipertensi yaitu mencapai dan mempertahankan tekanan darah di
bawah 140/90 mmHg dengan demikian dapat mencegah morbiditas dan mortalitas
penyerta. Derajat hipertensi, komplikasi, biaya perawatan, dan kualitas hidup
sehubungan dengan terapi menjadi penentu efektivitas setiap program. Obat-obat
antihipertensi dapat dipakai sebagai obat tunggal atau dikombinasikan dengan
obat lain. Obat-obatan ini diklasifikasikan menjadi lima kategori; (1)
diuretik; (2) menekan simpatetik (simpatolitik); (3) vasodilator arteriol yang
bekerja langsung; (4) antagonis angiotensin (ACE inhibitor); (5) penghambat
saluran kalsium (blocker calcium
antagonis) (8).
Hipertensi yang terjadi pada klien
lanjut usia (lansia) semakin meningkatkan risiko terjadinya kematian dan
komplikasi, oleh karena itu tujuan utama penatalaksanaan yaitu untuk menekan
risiko terjadinya kejadian tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan cara
melakukan modifikasi gaya hidup sebagai pendekatan penatalaksaan non
farmakologis. Modifikasi gaya hidup yang dapat dilakukan antara lain: (1) teknik-teknik
pengelolaan stress; (2) terapi relaksasi; pertahankan berat badan ideal dan
turunkan berat badan jika obesitas; (3) lakukan modifikasi diet pembatasan asupan
natrium dan pembatasan asupan kolesterol; (4) berhenti merokok; dan (5) olahraga/
latihan (7).
Hipertensi menjadi prediktor kualitas
tidur lansia (9), dan apabila kualitas tidur buruk akan semakin memperburuk kondisi
fisik dan mental lansia (9). Terapi komplementer seperti terapi musik, dan latihan relaksasi
otot progresif terbukti dapat membantu meningkatkan kualitas tidur lansia dan
mengurangi kecemasan (10–12). Hasil
penelitian tersebut didukung hasil penelitian yang dilakukan Astuti N.F et al, (2017), relaksasi otot progresif
dan musik (RESIK) dapat membantu menurunkan tekanan darah sistolik sehingga
sangat direkomendasikan untuk dilakukan pada klien lansia dengan hipertensi (13).
E.
Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul yaitu (6,7):
1. Berat badan berlebih berhubungan dengan intake yang berlebihan (00233)
2. Insomnia berhubungan dengan ketidaknyamanan fisik (00095)
3. Defisien pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi (00126)
4. Risiko ketidakstabilan tekanan darah (00267)
F. NIC dan NOC
1. Diagnosa 1
a.
Diagnosa
Keperawatan
Berat
badan berlebih berhubungan dengan intake yang berlebihan (00233)
Status Nutrisi (1004):
|
Indikator |
T |
|
Asupan gizi |
5 |
|
Asupan makanan |
5 |
Keterangan:
T
= Target
|
1: |
Sangat
menyimpang dari rentang normal |
|
2: |
Banyak
menyimpang dari rentang normal |
|
3: |
Cukup menyimpang
dari rentang normal |
|
4: |
Sedikit
menyimpang dari rentang normal |
|
5: |
Tidak
menyimpang dari rentang normal |
Monitoring Nutrisi (2620):
-
Timbang berat
badan klien
-
Lakukan
pengukuran antropometrik pada komposisi tubuh
-
Monitor diet dan
asupan kalori
-
Monitor tipe dan
banyaknya latihan yang biasa dilakukan
-
Diskusikan peran
dari aspek sosial dan emosi terkait dengan mengkonsumsi makanan
-
Tentukan pola
makan
-
Tentukan faktor-faktor
yang mempengaruhi asupan nutrisi
Pengajaran: Peresepan Diet (5614):
-
Kaji tingkat
pengetahuan klien mengenai diet yang disarankan
-
Kaji pola makan
klien saat ini dan sebelumnya termasuk makanan yang disukai dan pola makan saat
ini
-
Kaji klien dan keluarga
mengenai pandangan, kebudayaan, dan faktor lainyang mempengaruhi kemauan pasien
dalam mengikuti diet yang disarankan
-
Kaji adanya
keterbatasan finansial yang dapat mempengaruhi pembelian makanan yang
disarankan
-
Ajarkan klien
nama-nama makanan yang sesuai dengan diet yang disarankan
-
Jelaskan pada
klien mengenai tujuan kepatuhan terhadap diet yang disarankan terkait dengan
kesehatan
-
Instruksikan
klien untuk menghindari makanan yang dipantang dan mengkonsumsi makanan yang
diperbolehkan
-
Bantu klien untuk
memilih makanan kesukaan yang sesuai dengan diet yang disarankan
-
Observasi
bagaimana klien memilih makanan
-
Sediakan contoh
menu yang sesuai
-
Rujuk pasien ke
ahli gizi jika diperlukan
- Libatkan klien dan keluarga
a.
Diagnosa
Keperawatan
Insomnia
berhubungan dengan ketidaknyamanan fisik (00095)
b. Nursing Outcomes Classification (NOC)
Tidur
(0004):
|
Indikator |
T |
|
Pola tidur |
5 |
|
Kualitas tidur |
5 |
|
Kesulitan memulai tidur |
5 |
Keterangan:
T= Target
|
1: |
Sangat
terganggu |
|
2: |
Banyak
terganggu |
|
3: |
Cukup
terganggu |
|
4: |
Sedikit
terganggu |
|
5: |
Tidak
terganggu |
c.
Nursing Interventions Classification (NIC)
Peningkatan Tidur (1850):
- Jelaskan pentingnya tidur yang cukup
- Anjurkan klien untuk memantau pola tidur
- Sesuaikan lingkungan untuk meningkatkan tidur
- Anjurkan klien untuk menghindari makanan sebelum tidur dan minuman yang mengganggu tidur
- Ajarkan klien bagaimana melakukan relaksasi atau bentuk non farmakologis lainnya untuk memancing tidur
- Diskusikan dengan klien dan keluarga mengenai teknik untuk meningkatkan tidur
Terapi Musik (44000):
- Pertimbangkan minat klien pada musik
- Identifikasi musik yang disukai klien
- Pilih musik-musik yang tertentu yang mewakili musik yang disukai klien
- Batasi stimulasi eksternal
- Pastikan volume adekuat dan tidak terlalu keras
3. Diagnosa 3
a.
Diagnosa
Keperawatan
Defisien
pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi (00126)
b.
Nursing Outcomes Classification (NOC)
Pengetahuan:
Manajemen Hipertensi
(1837):
|
Indikator |
T |
|
Target tekanan darah |
5 |
|
Komplikasi potensial
hipertensi |
5 |
|
Penggunaan yang benar dari obat yang diresepkan |
5 |
|
Pentingnya mematuhi pengobatan |
5 |
|
Strategi untuk membatasi intake sodium |
5 |
|
Manfaat olahraga secara teratur |
5 |
Keterangan:
T= Target
|
1: |
Tidak ada
pengetahuan |
|
2: |
Pengetahuan
terbatas |
|
3: |
Pengetahuan
sedang |
|
4: |
Pengetahuan
banyak |
|
5: |
Pengetahuan
sangat banyak |
c.
Nursing Interventions Classification (NIC)
Pengajaran Individu (5606):
-
Bina hubungan
baik
-
Pertimbangkan
kesiapan klien untuk belajar
-
Nilai tingkat
pengetahuan dan pemahaman klien saat ini
-
Nilai tingkat
pendidikan pasien
-
Nilai kemampuan klien
untuk mempelajari informasi
-
Atur bersama,
tujuan pembelajaran yang realistis dengan klien
-
Tentukan urutan
untuk menyajikan informasi
-
Pilih metode dan
strategi pengajaran yang tepat
-
Pilih material
pendidikan yang tepat
-
Berikan pamflet
instruksional, video, dan sumber (pembelajaran) secara online
-
Evaluasi prestasi
klien terkait dengan tujuan yang dinyatakan
-
Puji perilaku
dengan tepat
-
Koreksi informasi
yang salah
- Dokumentasikan
konten yang disajikan, bahan tertulis yang diberikan, penerimaan dan pemahaman
klien, dan perilaku klien yang menunjukkan pembelajaran
- Sertakan keluarga
4. Diagnosa 4
a.
Diagnosa
Keperawatan
Risiko
ketidakstabilan tekanan darah (00267)
b.
Nursing Outcomes Classification (NOC)
Manajemen Diri: Hipertensi (3107):
|
Indikator |
T |
|
Menggunakan obat sesuai resep |
5 |
|
Membatasi konsumsi kafein |
5 |
|
Menggunakan teknik relaksasi secara konsisten |
5 |
Keterangan:
T= Target
|
1: |
Tidak pernah menunjukkan |
|
2: |
Jarang menunjukkan |
|
3: |
Kadang-kadang menunjukkan |
|
4: |
Sering menunjukkan |
|
5: |
Secara konsisten menunjukkan |
c.
Nursing Interventions Classification (NIC)
Pengajaran Peresepan Obat-Obatan (5616):
-
Informasikan
klien konsekuensi tidak mengkonsumsi obat
-
Libatkan
keluarga/ orang terdekat sesuai kebutuhan
Pengajaran: Peresepan Diet (5614):
-
Kaji pola makan
klien saat ini dan sebelumnya termasuk makanan yang disukai dan pola makan saat
ini
-
Kaji klien dan
keluarga mengenai pandangan, kebudayaan, dan faktor lainyang mempengaruhi
kemauan pasien dalam mengikuti diet yang disarankan
-
Jelaskan pada
klien mengenai tujuan kepatuhan terhadap diet yang disarankan terkait dengan
kesehatan
-
Instruksikan
klien untuk menghindari makanan yang dipantang dan mengkonsumsi makanan yang
diperbolehkan
(secara bertahap menghentikan konsumsi
kafein hal ini dikarenakan konsumsi kafein terbukti dapat meningkatkan tekanan
darah sistolik (14))
-
Libatkan keluarga
Relaksasi otot progresif (1460):
-
Jelaskan tujuan
dan proses teknik pada klien
-
Instruksikan
pasien untuk memakai pakaian yang nyaman dan tidak ketat
-
Memilih seting
yang tenang dan nyaman
-
Berhati-hati
untuk mencegah interupsi
-
Instruksikan
klien untuk duduk di kursi atau berbaring pada permukaan yang nyaman
-
Instruksikan
klien untuk mengambil nafas melalui perut dan menahan untuk beberapa detik dan kemudian
menghembuskan dengan pelan
-
Minta klien untuk
mengulangi nafas panjang beberapa waktu, meminta klien untuk membayangkan
ketegangan dilepaskan dari tubuh pada setiap menghembuskan nafas
-
Biarkan klien
tegang selama 5-10 detik
-
Instruksikan
kepada klien untuk berfokus pada sensasi yang terjadi dalam otot ketika klien
menjadi tegang
-
Instruksikan
klien untuk berfokus pada sensasi otot pada saat rileks
-
Mulai meminta klien
untuk mengambil nafas dalam dan mengencang kan otot di dahi dengan menaikkan
alis mata setinggi mungkin untuk 5-10 detik dan kemudian melepaskan ketegangan
berfokus pada perasaan dari relaksasi otot yang dia hembuskan
-
Cek klien secara periodik
dalam rangka menjamin agar kelompok otot menjadi rileks
-
Tegangkan
kelompok otot klien lagi jika relaksasi tidak terjadi
-
Berhenti untuk 10
detik sebelum berpindah ke grup otot lain
-
Monitor indikator
akan tidak adanya kondisi rileks, misalnya pergerakan, pernafasan yang sulit,
nafas sulit, bicara dan batuk
-
Instruksikan pada
klien untuk bernafas dalam dan pelan
-
Kembangkan pola relaksasi
yang bersifat personal yang membuat klien untuk tetap fokus dan merasa nyaman
-
Akhirnya sesi
relaksasi secara berangsur.
-
Berikan waktu
bagi klien untuk mengekspresikan perasaan terkait dengan intervensi
-
Dukung klien
untuk mempraktikkan sesi secara teratur
Daftar Pustaka
1. Joint National Committee. The Sixth
Report of the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation,
and Treatment of High Blood Pressure. USA: National Institutes of Health; 1997
Nov.
2.
Sommers MS. Davis’s diseases and
disorders: a nursing therapeutics manual. Sixth edition. Philadelphia: F. A.
Davis Company; 2019. 1 p.
3.
Noncommunicable diseases:
Hypertension [Internet]. 2015 [cited 2020 Nov 3]. Available from:
https://www.who.int/news-room/q-a-detail/noncommunicable-diseases-hypertension
4.
Udjianti WJ. Keperawatan
Kardiovaskular. Jakarta: Salemba Medika; 2010.
5.
Joint National Committee. The
Seventh Report of the Joint National Committee on Prevention, Detection,
Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure. USA: National Institutes of
Health; 2004 Agustus.
6.
Smeltzer SC, Bare BG, Johnson JY.
Brunner & Suddarth’s Textbook Of Medical-Surgical Nursing. 10th ed.
Lippincott Williams & Wilkins; 2003.
7.
LeMone P, Burke KM, Bauldoff G.
Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah: Gangguan Kardiovaskular. 5th ed. Linda A,
editor. Jakarta: EGC; 2019.
8.
Mutaqqin A. Asuhan Keperawatan
Klien dengan Gangguan Sistem Kardiovaskular. Nurachmach E, editor. Jakarta:
Salemba Medika; 2020.
9.
Yang C-Y, Chiou A-F. Predictors of
Sleep Quality in Community-Dwelling Older Adults in Northern Taiwan: J Nurs
Res. 2012 Dec;20(4):249–60.
10.
Sulidah, Yamin A, Susanti RD.
Pengaruh Latihan Relaksasi Otot Progresif terhadap Kualitas Tidur Lansia. J
Keperawatan Indones. 2016;4:10.
11.
Junaidi J, Noor Z. Penurunan Tingkat
Kecemasan Pada Lansia Melalui Terapi Musik Langgam Jawa. J Keperawatan Indones.
2010 Nov 24;13(3):195–201.
12.
Feng F, Zhang Y, Hou J, Cai J, Jiang
Q, Li X, et al. Can music improve sleep quality in adults with primary
insomnia? A systematic review and network meta-analysis. Int J Nurs Stud. 2018
Jan;77:189–96.
13.
Astuti NF, Rekawati E, Wati DNK.
Decreased blood pressure among community dwelling older adults following
progressive muscle relaxation and music therapy (RESIK). BMC Nurs [Internet].
2019 Aug [cited 2020 Nov 3];18(S1). Available from:
https://bmcnurs.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12912-019-0357-8
14.
Farag NH, Whitsett TL, McKey BS,
Wilson MF, Vincent AS, Everson-Rose SA, et al. Caffeine and Blood Pressure
Response: Sex, Age, and Hormonal Status. J Womens Health. 2010
Jun;19(6):1171–6.
No comments:
Post a Comment